Salah satu tim yang bergerak adalah Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). 5 Anggotanya dan dua warga bergerak sejak Jumat 27 Juni pukul 04.00 WIB.
"Kami memulai dari Bedeng, terus Gunung Bundar, lanjut ke Curug Ciampea, dan ke dataran tinggi Pasir Lungapan. Tapi di sini tidak ada tanda-tanda," ujar Edi Suwirta dari RAPI di kaki Gunung Salak, Bogor, Sabtu (28/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita kemudian memutari 6 bukit, mengambil ke utara ke Pasir Lahar. Tiba di sana jam 09.00 pagi, tiba-tiba ada kabut turun. Pandangan kami terbatas dan tidak bisa menembus," ujar Edi.
Meski telah lelah dan sepatu rusak hingga mesti diikat tali, bersama kawan-kawan dan warga, Edi terus berjalan melakukan penyisiran. "Kabut reda, kami bergerak ke Pasir Andeng. Dan jam 2 siang, terpaksa harus mencari rumah penduduk di Sinar Wangi untuk mengisi bekal. Jarak dari posisi kami 6 KM dari rumah terdekat," jelas dia.
Dan rupanya keberuntungan berpihak pada tim penyisir. Setelah beristirahat sejenak, tim melanjutkan perjalanan menuju Pasir Padalarang dan berlanjut ke Pasir Pamengpeuk dan ke Kramat Cikabayan.
"Jam 3 sore, tim 4 yang bergerak dari Curug Nangka menemukan serpihan pesawat di Tegal Lilin. Kami lalu bergerak ke lokasi," ujar dia.
Setelah dicari lebih jauh, ternyata lokasi reruntuhan pesawat sudah dekat dari serpihan pesawat yang ditemukan. "Jaraknya 1 jam dari lokasi serpihan," kata dia. Setelah itu, Edi bersama tim pun melaporkan lokasi tepatnya pesawat tersebut. (ndr/asy)











































