"Kalau memang Pak Syamsir bilang begitu, ya tuntaskan saja. Kalau ada undang-undang dilanggar, ya dikasih sanksi. Jangan dikompor-kompori," kata Ketua FPD Sutan Bathoegana saat diskusi di DPD, Gedung MPR DPR, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (27/6/2008).
Menurut Sutan, Syamsir merupakan kaliber intelijen nasional. Dia dinilai tidak mungkin mengeluarkan pernyataan secara sembarangan jika tidak memiliki data.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan Sutan, mantan aktivis 1990-an Budiman Sudjatmiko mengecam pernyataan Syamsir di Istana Negara, Kamis kemarin. Menurut dia, seorang kepala intelijen tidak boleh mengeluarkan pernyataan politik. Tugas intelijen hanya melihat, mendengar dan mengumpulkan data.
"Yang mengeluarkan pernyataan politik itu politisi atau kepolisian, humas Polri paling banter. Di Inggris saja, kepala intelijennya saja tidak boleh dikenal. Ini saking stratregisnya badan intelijen di sana," ujar Budiman.
Hal senada juga dikatakan oleh anggota DPD Sarwono Kusumaatmadja. "Istilah disusupi, ditunggangi, dalam gerakan mahasiswa adalah klise. Sama saja mengatakan langit itu biru," cetus Sarwono.
(ana/asy)











































