Desi yang didampingi kuasa hukumnya, dengan tegar akhirnya membeberkan upaya-upaya Max untuk mengajaknya berhubungan seks. Dia menceritakan hal itu saat menunggu pemeriksaan anggota FPDIP itu oleh BK DPR di Gedung DPR, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (26/6/2008).
Berikut petikan tanya jawab wartawan dengan perempuan ayu ini:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan tidak melawan saya. Saya melawan. Tapi Bapak (Max Moein) ... (Desi terdiam) Dikasih tahu aja ya? (Meminta keyakinan pada kuasa hukumnya).
Memang awalnya perlawanan saya cuma bicara. Saya tidak mau melakukan itu karena saya menjaga kehormatan saya. Tapi dengan janji-janji kalau saya tidak akan ditinggalkan, dipecat.
Bapak selalu melakukan upaya-upaya supaya itu terjadi. Bapak selalu melakukan upaya dengan ancaman dan kekuasaannya. Makanya kenapa saya tidak bicara sampai saat ini. Bapak selalu menggunakan alat bantu kayak handbody lotion yang Bapak sendiri bawa. Ada jelly juga. Yang saya tidak tahu gunanya untuk apa.
Pelumas kali (terdengar suara celetukan).
Ya mungkin. Jelly yang biasanya ada di ruangan Bapak. Karena itu tidak berhasil dan saya tidak mau, saya juga pernah dipaksa untuk minum obat. Alat bukti itu sudah saya berikan ke BK. Kalau pun harus dilakukan penyelidikan yang lebih lanjut, pasti ada sidik jari Bapak.
Setelah saya tidak bisa dengan obat, saya katakan tidak mau minum. Saya tetap tidak mau minum, akhirnya Bapak berusaha menggunakan jari di ruangan kerja itu. Itu juga tidak terjadi pada bulan November karena saya tidak mau.
Kejadianya kapan?
Kejadiannya itu awal Desember. Di situ Bapak menggunakan jelly. Bapak memaksa saya minum obat. Saya tidak mau karena obat itu sangat pahit. Saya bilang itu terjadi didukung oleh keterangan dokter.
Bercak darah yang Bapak minta masih saya simpan sampai sekarang. Saya bersedia dilakukan tes DNA asal berdua dengan Bapak.
Saya tidak minta apa pun. Saya hanya minta Bapak bertanggung jawab dan meminta maaf pada orangtua yang mengakibatkan orangtua saya sakit mendengar berita itu.
Saya menyatakan bahwa Bapak menghubungi Bapak (ayah Desi) saya 2 Juni kemarin, setengah jam sebelum Bapak menghadap BK. Bapak menelepon orangtua saya. Pertama mau bicara dengan Mama saya. Tapi Mama saya nggak mau. Akhirnya mengaku teman saya, menghubungi Bapak (ayah Desi). Bapak (ayah Desi) juga nggak mau. Nomor itu tersimpan, saya sudah sampaikan ke BK.
Saya tidak minta apa-apa. Saya hanya minta Bapak mengakui perbuatannya dan minta maaf pada orangtua saya. Bayangkan juga jika itu terjadi pada anaknya kalau mengalami nasib sepertinya. Gemetar, menangis, dengan ancaman. Diteror.
Mbak, apakah tetap bertahan karena permasalahan finansial?
Tidak sama sekali, karena ada janji, ada ancaman, yang membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau BK meminta tes DNA, saya bersedia. Saya berterima kasih dan meminta doa. Semoga ini jadi pelajaran. Awalnya ini untuk BK saja. Agar tidak simpang siur, ya saya jelaskan.
(ana/nrl)











































