"Saya kira itu (demo ditunggangi) segelintir mahasiswa. Mereka tokoh-tokoh mahasiswa yang sangat politik. Saya menduga itu kelompok Forkot karena tahun 1999 kelompok itu menggunakan cara-cara seperti itu. Saya tahu karena saya juga mantan rektor," kata mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra.
Hal ini disampaikan Azyumardi di sela-sela diskusi bertajuk "The second world peace forum" di Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (26/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah mereka aktivis 1998 yang tidak kebagian kue reformasi? "Faktor-faktor seperti itu ada. Mahasiswa 1999 yang tidak terekrut oleh parpol atau kekuasaan. Kalau kita lihat kemarin, perguruan tinggi yang jadi motor demokrasi itu kan tidak turun seperti UI, UIN, UNJ," sahut Azyumardi.
"Itu tipikal Forkot. Di kampus-kampus, mereka tidak peduli kuliah. Tujuan mereka destabilisasi politik. Slogannya revolusi sampai mati," lanjut guru besar ini.
Menurut Azyumardi, perlu ada penegakan hukum dalam demo anarkis. Demo anarkis disebabkan lantaran ada pihak yang lebih suka menggunakan otot daripada otak.
"Mungkin tujuan mereka baik tetapi caranya tidak benar. Isu yang diangkat mengundang simpati rakyat. Tetapi caranya mengundang antipati," ujar Azyumardi. (aan/nrl)











































