"Pasti orang akan mengatakan, gara-gara saluran komunikasi politik yang terhambat, maka mahasiswa menjadi agresif dalam menyampaikan aspirasi. Kita semua mengakui, jika media kita memfokuskan tentang kekerasan," ujar pakar komunikasi politik Universitas Indonesia (UI) Effendi Gazali.
Hal itu disampaikan Effendi usai acara peluncuran buku politisi Partai Demokrasi Pembaruan Roy BB Janis, 'Wapres Pendamping atau Pesaing?' di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (25/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, imbuh dia, ada yang menolak aksi kekerasan. Media harus seimbang memberitakan antara kekerasan itu sendiri, dan yang tidak membenarkan kekerasan.
"Jangan sampai kekerasan oke-oke saja dilakukan. Karena akan merugikan kepentingan publik. Dan harus seimbang. Demo mahasiswa banyak tidak masalah. Asal kreatif. Seperti dengan aksi-aksi teatrikal," kata Effendi. (nwk/fay)











































