"Sikap menteri sudah jelas. Tetapi jawaban tertulisnya begini. Perjanjian ini dihidupkan kembali dengan surat dari Kementerian Luar Negeri RI. Kedua belah pihak siap melanjutkan kerjasama riset," kata politisi bersorban ini mengulangi pernyataannya di dalam forum.
Karena itu, Ngabalin menemukan jawaban tertulis tersebut bertentangan dengan sikap Menkes.
"Saya percaya, saya haqqul yaqin, ada sabotase. Bisa jadi dibayar oleh orang-orang tertentu," kata dia.
Anggota Komisi I yang lain mengusulkan jawaban tertulis Menkes ditarik. Sedangkan anggota Komisi I dari FPKS Suryama malah mengembalikan jawaban tertulis itu pada pemimpin sidang.
Sementara Menkes ketika dimintai konfirmasi mengatakan ada miskomunikasi dengan stafnya, terkait jawaban yang berbeda itu.
"Ini misscommunication. Jadi biasanya memang birokrat itu seperti itu. Mereka langsung aja ngasih jawaban. Kalau jawaban itu sikap menteri, mestinya harus tanya sikap menteri," kata dia.
Ketika ditanya miskomunikasi dengan staf bagian mana, Menkes menjawab, "Staf Litbangkes."
"Jawaban yang paling salah adalah,jawaban singkat menterinya bagaimana, bukan jawaban teknis. Kalau teknis sih oke-oke saja," imbuh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah asal Solo ini. (nwk/nrl)











































