Munir, Muchdi & Intel

Kolom

Munir, Muchdi & Intel

- detikNews
Rabu, 25 Jun 2008 11:06 WIB
Munir, Muchdi & Intel
Jakarta - Muchdi PR ditangkap. Laki-laki ini harus mendiami salahsatu sel Rutan Kelapa Dua. Dia ditetapkan sebagai tersangka pembunuh Munir. Ada yang mengindikasikan Muchdi sebatas eksekutor. Tapi ada pula yang menyebut dialah perencananya. Itu yang ingin dikorek polisi untuk mengungkap misteri kematian aktifis HAM yang masih misterius itu.

Penangkapan Muchdi adalah salahsatu jawaban dari selentingan lama yang menyebut mantan Deputi V Badan Intelijen Negara (BIN) itu sebagai tokoh penting dalam penghilangan nyawa Kera Ngalam itu. Taklah heran jika kasus pembunuhan tahun 2004 itu mengarahkan pada Muchdi tersangkanya, semuanya seperti bersepakat.

Intelijen memang cenderung 'tidak manusiawi'. Itu karena intelijen adalah memata-matai, selalu campur tangan terhadap pribadi dan negara, serta bekerja berdasar prasangka-prasangka. Celakanya, tiap negara pasti punya intelijen. Peran institusi ini juga sangat vital. Itu karena warning negara terancam atau tidak memang berasal dari para telik sandi itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di era Airlangga, 'ketidakmanusiawian' intelijen itu mengejawantah pada figur Baduga. Ketika Calon Arang mengancam rakyat dan tidak ada yang bisa menghentikan tuahnya, maka Baduga yang diterjunkan. Telik sandi itu pura-pura menjadi anak didik Dirah. Ketika ilmu Dirah sudah dikuasai, Baduga pun membunuh sang guru dengan ilmu yang ditimba dari sang guru.

Di abad kesembilanbelas, dunia dikejutkan dengan popularitas Matahari. Wanita cantik keturunan Belanda-Jawa itu menjadi agen ganda. Dia ambil seluruh informasi penting itu di tempat tidur. Dan ketika info itu sampai ke musuh, maka ratusan atau ribuan orang terbunuh. Matahari akhirnya mati tragis, dieksekusi akibat itu di tahun 1917.

Pekerjaan intelijen yang menakutkan dengan resiko tinggi itu mengilhami George Orwell. Dalam karyanya yang laku keras, 1984, secara implisit dia menyebut kemanusiaan sirna di mata intelijen. Tak ada privasi. Semuanya serba diawasi. Kemana-mana ada yang membuntuti. Sampai-sampai dinding pun bertelinga.

Di era Orde Baru, gambaran George Orwell itu kenyataan. Siapa vokal akan dihilangkan. Dan siapa yang melawan namanya akan cepat tinggal kenangan. Sosok intelijen dengan pekerjaannya yang menakutkan benar-benar tampil telanjang. Tak ada yang perlu ditutupi.

Pendemo akan menghuni penjara-penjara gelap. Dan kemungkinan nyawanya bisa diselamatkan hanyalah mukjijat. Saya ingat cerita saudara aktifis yang selamat. Bagaimana dia harus sering memindahkan adiknya itu agar hilang dari penguntitnya. Dan itu makan waktu bertahun-tahun.

Semua kekelaman yang diceritakan di atas itu memang terjadi di jaman kelam. Jaman ketika tentara digunakan sebagai alat kekuasaan, dan hukum hanya sekadar mainan yang bisa disetting suka-suka penguasa.

Tapi ketika sudah memasuki Orde Reformasi, dan Munir harus mengakhiri hidupnya gara-gara diracun, maka ini yang mengundang tanda tanya besar. Seberapa besar kesalahan Munir? Mengapa dia dibunuh? Siapa pembunuhnya? Dan adakah Munir ancaman bagi negara?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang hingga kini belum terkuak. Akibatnya, di tengah misteri pembunuhan itu, ada banyak kepentingan untuk saling bermain dan memainkan. Adakah benar Munir korban perpecahan di tubuh dinas intelijen kita? Rasanya kita masih perlu menunggu lama lagi untuk mendapatkan kebenaran dari berbagai spekulasi-spekulasi.

Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.Β 

(iy/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads