"Ada upaya pengalihan isu. Karena penganiayaan memang betul. Ada jahitannya di kepala, di dada, walaupun sudah menyembuh. Kepala kan bisa yang tadinya gegar otak menjadi memar otak karena waktu. Apapun, ada tanda-tanda penganiayaan, seperti cidera," ujar Ketua Komisi XI (Komisi Kesehatan) DPR dr Ribka Tjiptaning.
Hal itu disampaikan Ribka pada detikcom, Selasa (24/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau HIV/AIDS kan bisa terlihat mukanya seperti ini. Walaupun itu masih diduga. AIDS kan masa inkubasinya kan lama. Setelah itu gejala klinisnya baru kelihatan," kata politisi asal PDIP ini.
Ribka menilai para dokter itu sudah dipakai sebagai alat untuk mengalihkan isu. "Dokter sudah dipakai untuk alat. Pengalihan yang tadinya mungkin, seharusnya memang betul ada penganiayaan, ada tandanya, bekasnya. Mengalihkannya ke masalah penyakit HIV supaya yang menganiaya itu luput dari tuduhan," ujar mantan aktivis ini.
Pengalihan isu itu, juga ditujukan untuk mencemari gerakan mahasiswa. Seperti, tuduhan melempar bom molotov ke Istana Presiden saat demo mahasiswa.
"Yang punya molotov kan aparat juga. Saya ini pengalaman memimpin aksi tahun 1996. Kalau nggak dimasukin, demo 25 ribu buruh juga anteng. Ini agar ada alasan untuk membubarkan, menangkap. Supaya isunya nggak politik, giliran ditangkep disisipi narkoba," tandas Ribka. (nwk/nrl)











































