Peristiwa ini terjadi saat Wapres membuka Rakernas Pengajian Al Hidayah di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (23/6/2008). Pengajian Al Hidayah berada di bawah naungan Partai Golkar.
"Bahwa lembaga-lembaga dakwah berguna sebagai pendalaman. Pengajian selalu saya gambarkan sebagai pengkajian dan pendalaman. Kalau orang sudah yakin, di pengajian akan dikaji dan lebih dalam lagi. Kalau sudah yakin lebih yakin lagi. Lewat dakwah-dakwah, kita berharap meningkatkan harkat hidup kita," papar Wapres di hadapan 200 orang peserta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ooo...silakan.Ooo...mungkin anaknya," kata Wapres berhenti pidato.
Si ibu tampak panik dan berusaha mematikan ponselnya. Entah tidak bisa atau grogi, ibu yang mengenakan seragam batik dan kerudung warna kuning itu rupanya sulit mematikannya dan ringtone terus berbunyi.
Ringtone itu telah menyedot perhatian para peserta. Peserta terlihat menolehkan kepalanya ke arah ibu tersebut. Padahal, peserta sebelumnya telah diminta mematikan handphonenya sebelum acara di mulai.
2 Petugas Paspampres turun tangan. Paspampres meminta handphone sang ibu dan mematikannya. Ringtone itu akhirnya bisa dijinakkan.
"Ya sudah. Yang punya HP off dulu," pinta Wapres yang langsung melanjutkan pidatonya.
"Untungnya bukan ringtone Artalyta," celetuk seorang ibu yang duduk di barisan belakang setengah berbisik.
Tidak ada yang berani tertawa menyaksikan insiden ringtone nyelonong itu. (aan/nrl)











































