Bukan Gagal Tapi Belum Berhasil

Menggoyang Kursi Jaksa Agung

Bukan Gagal Tapi Belum Berhasil

- detikNews
Senin, 23 Jun 2008 10:45 WIB
Bukan Gagal Tapi Belum Berhasil
Jakarta - Minggu sore 2 Maret ketika jaksa Urip Tri Gunawan dicokok KPK saat keluar dari sebuah rumah di Jalan Hang Lekir WG No 9 Jakarta Selatan, Artalyta, sang empunya rumah begitu ketakutan.

Soalnya Urip tertangkap usai dari rumahnya dengan memboyong uang US$ 660 ribu. Begitu tahu tamunya ditangkap, Artalyta langsung naik ke lantai dua rumahnya. Di dalam kamar, Ayin, panggilan wanita itu mengontak sejumlah koleganya. Hampir dua jam Ayin mengurung diri di dalam kamar.

Akhirnya ia mau keluar dan ikut dengan tim KPK setelah ada janji surga dari
koleganya di gedung bundar Kejagung. Soalnya dua petinggi di korps Adhiyaksa, yakni Untung Udji dan Kemas Yahya Rahman. Di pesawat telepon keduanya menjamin kalau Artalyta akan dibawa ke Kejagung dengan pengawalan dari tim dari kejaksaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apesnya, skenario penyelamatan Ayin direkam KPK dan rekaman hasil percakapan
Ayin dengan dua pejabat Kejagung itu dibuka dalam pemeriksaan terhadap Ayin
terungkap dalam pemeriksaan Ayin oleh KPK, pekan lalu.

"Memang ada kontak telepon dengan Kejaksaan Agung bahwa ada tim kejaksaan yang akan datang menangkap Ayin. Tapi Pak Antasari tidak mengizinkan," kata Wakil Ketua KPK bidang Penindakan Chandra M Hamzah kepada detikcom. Akhirnya skenario pembebasan Artalyta yang dirancang Untung Udji dan Kemas gagal total.

Pengungkapan skenario pembebasan ratu suap itu kini menjadi bola panas Hendarman. Soalnya dalam bincang-bincang lewat telepon dikatakan ia mengetahui adanya rencana jahat tersebut. Bukan cuma Hendarman, Ketua KPK Antasari Azhar yang berasal dari institusi kejaksaan juga disebut-sebut ikut terlibat. Namun pria kelahiran Bangka Belitung ini segera membantahnya.

"Itu tidak benar, nanti kita lihat saja di persidangan fakta yang sebenarnya," kata Antasari kepada detikcom.

Pastinya, percakapan rahasia itu membuat beberapa kalangan mulai menyoroti sosok Hendarman. Mereka menilai skenario yang dirancang dua pejabat Kejagung bukan tidak mungkin atas sepengetahuan sang bos, Hendarman Supandji. Tak heran kalau kursi Jaksa Agung yang ia duduki mulai digoyang.

"Kalau memang dia banyak dosanya ya lebih baik mundur. Daripada diundurken," ujar Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno.

Pria yang akrab dipanggil Mbah Tardjo ini memang belum melihat kegagalan Hendarman memimpin Kejagung. Tapi karena Hendarman dianggap belum berhasil melakukan bersih-bersih di Kejagung dari unsur korupsi, mau tidak mau kapasitas Hendarman layak untuk dipertanyakan.

Desakan mundur Hendarman juga diucapkan oleh Yusuf Andin Kasim dari Komisi III DPR. Hendarman dianggap sudah dua kali terbukti tidak becus mengatasi masalah korupsi yang melilit institusinya.

"Hendarman harus mundur. Karena dia tidak mampu, tidak tegas dan terlalu percaya dengan anak buah. Hasilnya seperti kita lihat sekarang kejaksaan menjadi lebih bobrok. Presiden SBY harus lekas mengubah wajah Kejaksaan dimulai dari Hendarman," tegas politisi dari Kalimantan Timur ini.

Tapi tidak semua politisi DPR sepakat dengan desakan mundur terhadap Hendarman. Wakil Ketua Komisi III Aziz Syamsudin dari Fraksi Golkar meminta Hendarman untuk tetap tenang menyikapi masalah yang melanda korpsnya. Namun di sisi lain Azis mengatakan, kalau memang Hendarman harus diganti dari jabatan Kejaksaan ada baiknya dicari yang lebih serius dalam mengatasi praktek korupsi. (ddg/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads