"Hal ini dilihat dari sepinya TPS (tempat pemungutan suara) sejak pagi hingga siang. Pengolahan data di lapangan Golput mencapai 40 persen," kata Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih Rakyat (JPPR) Jeiry Sumampouw dalam siaran pers, Minggu(22/6/2008).
Jeiry lalu mengungkapkan beberapa alasan antara lain data pemilih yang buruk, yakni banyak warga masuk daftar pemilih tetap (DPT) padahal tidak lagi berdomisili di daerah itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilihan hari Minggu sebagai hari pencoblosan juga dinilai sebagai pemicu tingginya Golput. "Banyak orang memilih bepergian atau ke tempat lain. Memang daerah yang menggelar Pilkada hari Minggu rendah partisipasinya, selain itu 5 pasangan calon tidak terlalu diterima masyarakat umum," tandas Jeiry. (ndr/mok)











































