"Tuduhan itu sangat kejam. Tidak mungkin keponakan saya terjangkit HIV yang
mematikan. Barangkali yang mengatakan keponakan saya kena AIDS justru yang kena sendiri," kata Ahmad Masruri, paman Maftuh.
Hal itu diungkapkan Ahmad di rumahnya di Desa Adikarto Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Minggu (22/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, hingga pemakaman Maftuh pada hari Sabtu sore kemarin, sebagian
besar keluarga besar Maftuh belum bisa menerima keterangan yang menyatakan dia meninggal karena HIV. Sebab keluarga Maftuh terutama ayahnya, H Muhammad Sahdi, tergolong keluarga yang taat beragama.
"Nggak mungkin seperti itu, di keluarga kami semua mendapat pendidikan agama
yang kuat," kata Masruri yang menjabat Sekretaris Desa Adikarto itu.
Meski demikian, keluarga menyatakan ikhlas dan menerima keadaan tersebut. Pihak keluarga juga tidak akan menuntut kepada siapa pun atas kasus yang menyebabkan kematian Maftuh.
"Kami ikhlas dan tidak menuntut kepada siapa pun. Ini musibah yang harus kami terima. Tapi pernyataan soal itu sekali lagi sangat kejam," katanya.
Menurut dia, hingga pemakaman Maftuh di pemakaman desa setempat, pada malam harinya warga bersama teman-teman Maftuh yang datang dari Jakarta menggelar acara tahlilan di rumah neneknya Hj Homimah. Maftuh adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Muhammad Sahdi (55), dan Mumfatimah (54). (bgs/ken)











































