Demikian seperti dilaporkan stasiun televisi pemerintah Iran seperti dilansir harian Sydney Morning Herald, Jumat (20/6/2008).
Dalam pertemuan dengan para ulama di Kota Qom, Ahmadinejad mencetuskan, "musuh-musuh" Iran berniat membunuhnya ketika dirinya pergi ke Baghdad, Irak pada Maret lalu. Pemimpin Iran biasanya menggunakan istilah "musuh-musuh" untuk menyebut negara-negara Barat, khususnya AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kawasan itu juga terdapat kedutaan besar AS dan sebagian besar petinggi-petinggi atau tamu negara yang berkunjung akan tinggal di sana.
Namun Ahmadinejad memilih tinggal di area yang mencakup kediaman Presiden Irak Jalal Talabanim dan Abdul-Aziz al-Hakim, kepala partai Syiah di Irak. Keduanya punya hubungan yang erat dengan pemerintah Teheran.
Pengamanan Ahmadinejad selama kunjungan di Irak tidak dilakukan oleh tentara atau polisi melainkan oleh anggota Gerakan Syiah Badr, yang dekat dengan al-Hakim.
Pemerintah Iran dan AS tidak memiliki hubungan diplomatik sejak tahun 1979 silam. Tepatnya setelah penyerbuan kedutaan besar AS oleh para mahasiswa militan yang menyandera beberapa tawanan AS selama 444 hari.
Belakangan ketegangan itu kian meningkat setelah AS menuding Iran diam-diam berupaya mengembangkan senjata nuklir lewat program nuklir yang dijalankannya. Iran membantah keras tudingan itu. Ditegaskan Iran kalau program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, yakni sebagai pembangkit energi.
(ita/nrl)











































