Sebagian lainnya sibuk dengan handphone-nya. Mereka menelepon atau mengirim SMS ke sana sini. Tujuannya satu, minta dikirim voucher pulsa.
"Tolonglah kirimkan nomer voucher yang 25 ribu saja, kawan. Lumayan buat makan malam dan beli rokok." Begitu bunyi pesan pendek atau SMS yang dikirim Wanto, seorang narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pemuda Tangerang kepada temannya.
Tidak lama kemudian pria berambut jabrik dan kusut itu tertawa. Ia lantas mengucapkan terimakasih kepada temannya yang berada di luar penjara. "Terimakasih ya bos. Akhirnya besok ada yang bisa dimakan," kata pria asal Boyolali, Jawa Tengah, itu bungah.
Makan, di LP Pemuda Tangerang, merupakan urusan yang gampang-gampang susah. Maklumlah, namanya juga hidup di bui. LP memang sudah menyediakan makanan untuk para napi. Tapi kondisinya sangat buruk dan jauh dari mengundang selera.
Menurut Wanto, nama makanan yang diberikan di dalam penjara adalah nasi cadong. Nasi cadong yang diberikan di dalam untuk dimakan para napi jauh dari standar gizi. "Kucing saja yang suka sama ikan asin, melengos saat ditawarkan. Apalagi kita sebagai manusia," terang Wanto kepada detikcom.
Maka untuk mendapatkan makanan yang sedikit lumayan, para napi memutar otak. Salah satunya dengan meminta dikirimi voucher pulsa kepada keluarga atau temannya. Kiriman pulsa yang sudah berbentuk nomor itu tidak dipakai untuk mengisi pulsa handphone, tapi untuk dijual lagi. Uang hasil jualan inilah yang kemudian dipakai untuk membeli makan.
Langkah meminta voucher, bagi para napi, dianggap sebagai langkah yang terbaik. Tindakan itu jauh lebih menguntungkan daripada keluarga atau teman datang membesuk. Untuk sekali besuk, keluarga harus mengeluarkan uang di atas Rp 50 ribu. Kenapa harus seperti itu? Karena banyak pintu yang harus dilewati agar bisa ketemu dan setoran kepada kepala kamar.
Setelah mendapatkan SMS yang berisi kode pulsa, Wanto tampak tenang. Ia lantas menghisap rokoknya dalam-dalam. Sesekali ia melempar canda kepada temannya di sel. Sel yang dihuni Wanto baru berisi 8 orang. Sel itu berada di blok A3 LP Pemuda Tangerang.
Tidak lama kemudian, napi yang mendapat hukuman 9 bulan itu berteriak lantang. "Siapa yang mau voucher Esia isi Rp 25 ribu?" teriak Wanto.
Mendengar teriakan tersebut, seorang narapidana korpe, sebutan untuk narapidana yang tidak pernah dibesuk keluarganya, mendatangi sel yang dihuni Wanto. Si korpe merupakan suruhan dari seorang narapidana yang mempunyai uang bernama Khamir.
"Berapa bang, Rp 15 ribu ya? Disuruh Bang Khamir nih," kata sang Korpe saat bertransaksi di sel Wanto. Khamir adalah nama orang yang berpengaruh di LP Pemuda Tangerang. Karena si korpe menyebut nama Khamir, Wanto langsung tidak banyak kata untuk menolaknya.
"Kalau dia yang beli, kita harus ikutin, karena besok-besok kita repot sendiri kalau mau jual voucher, bisa-bisa ditutup sehingga tidak ada yang mau beli," terang Wanto.
Harga voucher pulsa di dalam bui memang sangat jauh dari harga pasaran. Pulsa bernilai Rp 50 ribu untuk seluruh provider GSM dijual dengan harga Rp 40 ribu-Rp 43 ribu. Bagi voucher CDMA isi pulsa sama dijual Rp 40 ribu.
"Lebih parah kalau yang beli bapak-bapakan (petugas sipir penjara), bisa suka-suka harga belinya. Pulsa Rp 25 ribu cuma dibeli Rp 10 ribu," cerita Wanto.
Uang hasil penjualan voucher, langsung dibagi untuk beberapa pos. Pos tersebut terdiri dari uang grendel dan uang kebersihan Rp 2 ribu. Uang sewa handphone Rp 3 ribu dan sisanya untuk cicilan uang makan selama seminggu sebesar Rp 100 ribu.
Uang makan sebesar itu termasuk harga yang paling murah untuk makan napi. Itu pun sehari hanya makan dua kali. Menunya tentu masih sangat sederhana, tapi lebih baik dibandingkan nasi cadong. "Lauknya pakai teri, tempe, sayur, sambal dan air putih," cerita Wanto.
Pria yang masuk penjara karena kasus narkoba itu mengaku sebenarnya malu meminta-minta pulsa. Namun ia terpaksa melakukannya karena tidak kuat kalau harus terus menerus makan nasi cadong. "Nasi cadong di sini rasanya nano-nano, mual dan tidak enak. Teman saya langsung sakit diare setelah makan nasi cadong selama 2 hari. Kayak muntah kucing dan tidak dapat air untuk minum," kata Wanto.
Minta-minta pulsa hanya salah satu siasat para napi untuk mendapatkan uang. Selain itu, para napi juga berkreasi dengan penjualan kartu SIM bekas. Kartu SIM yang bekas itu dikumpulkan kepada salah satu napi kemudian dijual sesuai dengan providernya. "Untuk masing-masing kartu bekas dihargai Rp 1.000," kata Ruben narapidana LP Cipinang kepada detikcom.
Menurut Ruben, kartu bekas itu akan dijadikan kartu replacement sehingga bisa digunakan kembali dan dijual kepada konsumen. Replacement di sini cukup dengan memasukkan nomor yang sudah tidak terpakai namun masih bisa diaktifkan kembali oleh petugas provider selular yang bersangkutan.
"Ganti saja dengan nomor yang sudah pernah ada, namun tidak digunakan kembali oleh pemiliknya karena dianggap sudah tidak aktif," kata salah satu operator selular yang tidak mau disebutkan namanya kepada detikcom.
(ron/iy)











































