"Sejak dipublikasikan, banyak teman yang sms, minta ringtone itu. Sudah banyak dosen yang memilikinya. Kebanyakan dosen muda," ujar Prof Amran Razak, akademisi penggagas ringtone Artalyta-Kemas ini, kepada detikcom, Kamis (19/6/2008).
Menurut dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) ini, ringtone ini digemari lantaran banyak yang menjadikannya sebagai bahan olok-olok. "Dosen-dosen yang proreformasi menyukai karena dijadikan bahan olok-olok bagi pejabat kita yang korup," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tiba-tiba jadi tren. Tapi jarang yang menggunakannya sebagai ringtone. Hanya sebagai koleksi saja. Sesekali diperdengarkan kepada orang lain yang belum pernah dengar," terang Taufik, salah seorang pengunjung warung kopi di Makassar. (gun/nrl)











































