Seperti menimpa sebagian besar belahan dunia, harga BBM fosil di Belanda juga melonjak tajam. Mobil Volvo dengan kapasitas tanki 60 liter saat ini menggerus kocek hingga mendekati EUR 100 atau tepatnya EUR 95,76 (setara Rp 1,387 juta!).
Selain mahalnya BBM fosil, isu sustainable juga menjadi perhatian. Kabinet Belanda sudah menetapkan kebijakan bahwa emisi CO2 di Negeri Kincir Angin ini sudah bisa direduksi hingga 30% pada 2020.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mobil-mobil tersebut membuktikan bahwa inovasi accu telah berhasil membukukan prestasi sejajar dengan energi BBM fosil. Lotus Elise ECE melesat dengan percepatan dari 0 sampai 100 km/jam dalam 4 detik dan hampir tanpa suara.
Dengan isi penuh, mobil listrik tersebut mampu menempuh jarak 350 km. Inovasi accu ke depan diharapkan dapat terus meningkatkan radius tempuh hingga 500 km.
Dalam kesempatan itu Assent mempresentasikan rencana standardisasi dan jaringan distribusi catu listriknya yang diberi nama Mobile Smart Grid (MSG). Layaknya SPBU, para pengendara mobil listrik hijau dapat mengisi ulang accu mereka seperti mengisi mobil tradisional dengan bensin. Hebatnya, proses pengisian sampai penuh hanya butuh waktu 10 menit.
Biaya energi per kilometer mobil listrik ini cuma EUR 0,04/Km, jauh lebih murah dibandingkan mobil BBM fosil yang rata-rata EUR 0,13/Km.
Essent memperkirakan bahwa pihaknya saat ini tidak akan menemui kesulitan untuk mencatu 1 juta mobil dalam waktu serentak. "Kapasitas kami mampu mencatu 1 juta mobil sekaligus," ujar Direktur Essent Jan Peters kepada wartawan kemarin.
Konsorsium Essent dan importir mobil optimis bahwa mobil listrik ramah lingkungan ini akan segera meramaikan jalanan di Belanda. Diperkirakan pada 2025 jumlahnya akan mencapai 1,8 juta dari total 7 juta kendaraan bermotor di Belanda.
Essent saat ini adalah pemimpin pasar bidang energi di Belanda dengan omzet EUR 6,3 miliar. Sebesar 3.750 GWh (Gigawatt hour) produksinya dalam bentuk listrik ramah lingkungan.
(es/es)










































