413 Halaman dari Belakang SBY

Dino Patti Djalal Rilis Buku

413 Halaman dari Belakang SBY

- detikNews
Rabu, 18 Jun 2008 14:18 WIB
Jakarta - Banyak kejadian menarik di balik kegiatan Presiden SBY luput dari media massa. Ada yang hal kecil yang lucu, drama perundingan internasional dan ketegangan hubungan antar lembaga negara.

Jubir Kepresidenan RI Dino Patti Djalal mengungkap sebagian di antara itu dalam bukunya berjudul "Harus Bisa, Seni Memimpin ala SBY". Buku setebal 413 halaman ini adalah rangkuman catatan hariannya selama mendampingi Presiden SBY sebagai staf khusus bidang luar negeri.

Dino memilah catatan harian yang disusunnya sejak hari pertama menginjakkan kaki di Cikeas pada pertengahan Oktober 2004 hingga Maret 2008 itu dalam tujuh bab berdasar kesesuaian tema. Anda dapat mulai membacanya dari mana saja, tidak harus berurut dari bab pertama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bisa jadi karena kegemarannya pada fotografi, ayah 3 anak ini menggambarkan suasana dan elemen peristiwa dengan detail. Contohnya kisah keringat anggota PM di helm yang dipinjam SBY saat ngebut ke Sentul (hal 384), 'kesendirian' SBY di ruang KTT OKI Senegal (hal 388) dan sengatan 'laser' Presiden Rusia Vladimir Putin (hal. 321)

Kecermatan penggambaran suasana tampak pada bagian yang mengungkap ketegangan sebuah sesi rapat konsultasi pemerintah dengan pimpinan pihak DPR. Bagaimana tajam dan frontal Presiden SBY membalas 'serangan' yang dilontarkan seorang pimpinan DPR-RI (hal. 223).

Gaya deskriptifnya efektif memaparkan kisah di balik bencana tsunami Aceh. Di situ dikisahkan betapa SBY kaget dan kecewa terhadap manuver seorang tokoh politik nasional yang mendompleng tragedi kemanusiaan tersebut (hal 7). Kegalauan SBY kala itu, makin menjadi mendapati pertanyaan bodoh seorang wartawan luar negeri (hal 398).

Meski jelas SBY bagi Dino lebih dari sekadar atasan, tidak melulu puja dan puji yang ada di buku ini. Terselip sindiran halus atas menajemen waktu dan pola kerja SBY di awal pemerintahan yang membuat staf kepresidenan kurang istirahat. Juga kekonyolan Dino dan Andi Mallarangeng menjadikan SBY sebagai bahan taruhan mereka (hal 426).

Layaknya catatan harian, Dino menuliskan peristiwa suram sepanjang masa tugasnya di Istana Kepresidenan. Seperti proses hukum kasus dugaan menerima suap berupa mobil mewah yang dituduhkan Eggy Sudjana (hal 205), isu sebagai agen rahasia negara asing dalam kasus NAMRU (hal 225) dan tudingan menjadi calo bagi pengusaha yang ingin bertemu SBY.

Sayangnya (sengaja?) tidak dibeberkan satu fragmen penting dalam kariernya yang sempat jadi perhatian masyarakat. Yakni ketika dikabarkan 'di-grounded' karena isu mengatasnamakan Istana Kepresiden untuk menarik sumbangan bagi korban banjir Jakarta pada kalangan diplomatik pada February  2007. Atas ketidakhadirannya di Istana selama sepekan kala itu, Dino mengatakan mendapat 'tugas khusus' dari Presiden.

Terlepas dari 'penghindaran' di atas, buku ini sebaiknya Anda baca bila ingin mengenali sosok kepribadian  SBY yang sering kali 'dituduh' peragu dan tidak tegas. Cara bertutur Dino yang agak hiperbolik plus lelucon khas Inggris, membuat buku bersampul biru ini tidak melelahkan dibaca hingga akhir. Belum lagi sisipan kutipan yang inspiring dari sejumlah tokoh dunia, merupakan bonus unik.

Untuk mendapatkan buku ini Anda harus sedikit bersabar. Baru pada pekan depan Dino Patti Djalal yang selalu mengambarkan dirinya sebagai kuda lumping mengejar kuda balap itu resmi meluncurkan bukunya.

(lh/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads