Pakar Psikologi Sosial Universitas Katolik (Unika) Soegiyapranata Semarang, Edi Widiatmadi, mengatakan remaja lelaki maupun perempuan punya peluang yang sama dalam membentuk geng. Yang penting, masing-masing anggota saling sepakat.
"Karena acara idola-idolaan, banyak remaja ingin populer secara instan. Bisa jadi, anggota Geng Nero itu sebetulnya cuma ingin terkenal saja," katanya kepada detikcom melalui telepon, Selasa (17/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang kan sedikit-sedikit direkam. Seolah-olah mereka ingin diakui. Ini lho, yang digambar ini, saya," katanya.
Agresifitas remaja dalam mencari identitas kian mempertebal soliditas kelompok. Merasa sama-sama ingin menemukan identitas, mereka bisa membentuk geng dengan 'ideologi' dan cara pandang tersendiri.
Keberadaan geng merupakan perilaku distingtif dan mendekati eksibionisme. "Karena ingin berbeda, mereka bisa saja melakukan kekerasan atau telanjang. Padahal sebetulnya itu hanya identitas semu," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi anomi sosial seperti Geng Nero, Edi menyarankan perlunya konsistensi kontrol hukum. Dengan penegakan hukum, anggota masyarakat tahu benar-salah. Pembinaan di lingkungan keluarga dan sekolah juga penting. (try/djo)











































