Rute yang ditempuhnya adalah dari Iran, melewati garis pantai Pakistan hingga tiba di Mumbai, India.
Dari India, dia bersepeda lagi menyusuri perbatasan Pakistan-India hingga sampailah di Nepal. Di Nepal, dia senang banyak menemukan avonturir bersepeda seperti dirinya dan orang Israel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia juga tak habis pikir tentang pengidentikan sifat tertentu dengan suku atau agama tertentu. "Kenapa Muslim harus identik dengan teroris? Arab identik dengan teroris? Dunia juga cenderung menyamakan orang Iran dengan Arab. Padahal kami bukan orang Arab. Bahasa kita juga bukan Arab, tapi Parsi. Perbedaan yang orang tak tahu," ujarnya.
Di Nepal, Ashtari juga mengunjungi titik awal pendakian Himalaya. Setelah 2 bulan berkeliling India-Nepal, dia bermaksud meneruskan perjalanannya ke Asia Tenggara melalui Banglades. Namun, karena kepentok masalah visa, baik di Banglades, juga di negara junta militer Tan Shwe, Myanmar.
"Di Myanmar tak bisa dimasuki. Waktu itu ada musibah hujan lebat (Topan Nargis) dan lagi-lagi masalah politik," kata dia.
Karena tak bisa masuk Banglades, dan visa di Nepal sudah habis, dia harus segera hengkang dari negara itu. "Saya akhirnya terbang dari Nepal ke Kuala Lumpur, Malaysia," ujar Ashtari. Dari Malaysia, Ashtari menjejakkan kaki ke Indonesia. (nwk/nrl)











































