"Di sana sedikitnya ada seribu tahanan dalam penjara. Sebagian besar dari mereka melarikan diri," kata Wakil Menteri Hukum Mohammad Qasim Hashimzai kepada AFP, Sabtu (14/6/2008).
Meski demikian, Hashimzai enggan memberi kepastian berapa jumlah napi yang kabur itu. "Pemerintah masih menghitung napi di penjara utama di Kandahar," kilahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasukan keamanan Afghanistan juga telah melancarkan perburuan besar-besaran untuk menangkap kembali para tahanan yang kabur usai terjadinya serangan bom pada Jumat 13 Juni kemarin.
Milisi Taliban meledakkan penjara itu dengan bom bunuh diri dan senjata. Pemerintah menyebut pemberontak membebaskan sejumlah anggota militan yang ditahan di sana, serta membunuh sedikitnya dua sipir.
Serangan yang memecah kegelapan malam itu terjadi di depan pintu masuk penjara. Penduduk setempat mendengar letusan senjata api dan dentuman roket.
"Saya berada di rumah dan mendengar ledakan besar, kemudian api berkobar, letusan senjata dan roket," kata Abdul Bari, salah seorang penduduk yang tinggal di dekat penjara itu.
"Saya kira hampir semua tahanan kabur," ujarnya kepada AFP.
Serangan itu menampar Presiden Afghanistan Hamid Karzai, karena terjadi sehari setelah para pendonor dunia menjanjikan US$ 20 miliar untuk membangun kembali Afghanistan. Dana itu dijanjikan dalam konferensi yang digelar di Paris, Perancis.
Taliban menentang pemerintahan Karzai setelah mereka didepak dari kekuasaan di Afghanistan dengan invasi pimpinan AS pada 2001. Hal itu karena Taliban menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaida, Osama bin Laden.
(fiq/aan)











































