Hal itu diungkapkan Rektor UMY Dr H. Khoiruddin Bashori kepada wartawan di kantor PT Mentari Prima Karsa (MPK), salah satu badan usaha milik UMY, di Jl Pendidikan No 88, Ngestiharjo Kasihan Bantul, Jumat (13/6/2008). Turut hadir dalam pertemuan itu Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMY H Dasron Hamid MSc dan Dirut PT MPK Ir Riyam Indarto.
"Setelah dilakukan telaah teknis dan akademis, baik proyek Banyugeni maupun Pembangkit Listrik Mandiri Jodhipati, Senat UMY memutuskan penelitian Banyugeni tidak layak diteruskan," kata Khoiruddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Khoiruddin tidak bersedia membeberkan berapa dana yang telah dikeluarkan untuk dua proyek tersebut. Dia hanya menyebutkan ada dana di universitas yang digunakan untuk membiayai penelitian Banyugeni.
Sedang untuk pembangkit listrik, mereka menawarkan kerja sama sewa alat yang kemudian dipasang di salah satu tempat di kampus terpadu. Pemasangan juga sangat rahasia dan tidak boleh ada orang luar yang mengetahuinya.
Saat menawarkan alat itu, Joko Suprapto dan Purwanto cs menjanjikan alat itu bisa menghasilkan listrik 3 Megawatt, yang sewanya lebih murah dibanding harga listrik PLN. Harga yang mereka janjikan sekitar setengah harga listrik PLN tanpa abonemen. "Karena kita pandang murah, kita bersedia kerja sama dengan mereka," kata dia.
Sementara itu Humas UMY Ahmad Maruf menambahkan saat demo Banyugeni bulan Februari 2008, bahan bakar yang dinyalakan untuk kompor, lampu teplok dan motor bukan dari hasil penelitian di lab Pusper. Namun bahan bakar itu sudah dibawa Purwanto sendiri. "Itu yang kami tahu, tapi masih perlu dicek lagi," kata Maruf.
Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan roadshow kepada sejumlah pihak untuk menjelaskan dan memberikan klarifikasi bahwa saat ini UMY telah menghentikan proyek itu dan tidak ada hubungan atau putus hubungan dengan Purwanto. "Kita akan lakukan roadshow agar masyakarat semakin jelas. Sedang untuk akademis, sudah kami serahkan kepada senat UMY," pungkas Maruf. (bgs/asy)











































