Berikut petikan wartawan dengan Untung di ruang kerjanya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Jumat (13/6/2008).
Kenal Artalyta kapan?
Saya kenal dengan dia waktu menjadi Direktur Penyidik (Dirdik) di Jampidsus. Tetapi kenal saya hanya sebatas teman. Dalam etika profesi, saya tidak pernah menjual apa yang menjadi kewenangan saya. Buktinya, berkas perkara Sjamsul Nursalim itu sudah memenuhi syarat ke pengadilan. Terus, saya menjadi Kajati. Habis itu saya tidak pernah mengikuti lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa motivasi Ibu Artalyta mengontak Bapak?
Saya tidak tahu. Tanya saja sama dia (Artalyta). Makanya saya bilang kok tumben.
Kalau Bapak benar terlibat bagaimana?
Jangankan dicopot, disidang pun saya berani.
Bukti-bukti apa yang Anda ajukan?
Loh sekarang dari keterangan-keterangan itu tidak ada yang memberatkan saya. Karena itu nggak perlu mengajukan bukti-bukti.
Pak dari rekaman pembicaraan kemarin seolah-olah menyudutkan Bapak?
Menyudutkan dari sisi mana. Persoalan ini kita luruskan. Saya nggak pernah merasa tersudut kok. Saya kan cerita apa yang sebenarnya, gitu loh. Kalau pun dibilang melindungi, melindungi apa. Nggak mungkin. Hanya orang gila yang seperti itu.
KPK memutar rekaman percakapan telepon antara Artalyta dan Untung pada 2 Maret. Percakapan itu terjadi beberapa jam setelah Jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap KPK.
Dalam percakapan itu, Artalyta yang menjadi perantara Sjamsul Nursalim dan Djoko Tjandra itu bingung untuk menyelamatkan diri dan 'bos kita semua'. Akhirnya, Untung menyebutkan skenario, Ayin akan ditangkap oleh Kejagung agar lebih aman, dibandingkan jika ditangkap KPK. (aan/nrl)











































