Setelah rusuh itu sajian utama media massa seragam, menampilkan kisah lanjutan rusuh, penangkapan terhadap anggota FPI sampai perburuan terhadap Munarman yang menjadi Panglima Komando Laskar Islam. Media massa seperti lupa dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sebelumnya ramai ditentang. Ada apa?
Sebuah teori konspirasi kemudian muncul. Teori ini disampaikan sejumlah pengamat dan mantan presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ada dugaan, rusuh Monas merupakan konspirasi untuk mengalihkan isu kenaikan harga BBM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Intelijen Keamanan Negara Mabes Polri Irjen Saleh Saaf sempat memperingatkan Sekjen PDIP Pramono Anung sebelum kerusuhan terjadi. Sikap ini seperti memberi indikasi polisi sudah mengetahui akan terjadinya kerusuhan. Anehnya kemudian kerusuhan tetap terjadi sehingga memunculkan dugaan polisi memang sengaja membiarkannya terjadi.
"Setelah ada rusuh Monas, yang diuntungkan memang pemerintah. Orang-orang jadi lupa kenaikan harga BBM. Maka dengan gampang orang akan menganalisa ada skenario konspirasi seperti itu," ujar Lili.
Namun Lili belum mempunyai bukti kalau kerusuhan itu memang diskenario sejak awal. Pengamat politik LIPI itu menduga, rusuh Monas dan terlupakannya protes kenaikan harga BBM hanya merupakan suatu kebetulan. Tidak ada hubungan langsung antara dua kasus tersebut. Tenggelamnya masalah BBM hanya merupakan dampak saja dari kerusuhan. "Tudingan konspirasi itu lemah," tandas Lili kepada detikcom.
Analisa Lili dimentahkan Mantan pejabat Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) Soeripto. Pria yang kini menjadi anggota DPR dari PKS ini meyakini ada konspirasi rusuh Monas. Soeripto menuding pihak asing yang bermain dalam insiden tersebut. Salah satu indikasinya adalah Duta Besar Amerika Serikat (AS) menjenguk aktivis AKKBB yang menjadi korban rusuh Monas.
Kasus bentrokan AKKBB dan FPI pada tanggal 1 Juni 2008 berdampak memancing konflik horizontal antar kelompok Islam. Soeripto berharap umat Islam selalu mewaspadai adanya unsur-unsur tersembunyi agar tidak merugikan umat Islam sendiri. Tanda-tanda yang mengarah kepada sebuah rencana tersembunyi yakni adanya saling tuding dan saling menyerang antar sesama kelompok Islam yang berada di negeri ini.
Kebiasaan seperti ini biasanya dilakukan oleh intelijen asing yang memanfaatkan jaringan sekuler. Target dari intelijen asing ini adalah memecahkan image persatuan umat Islam dengan membuat citra kekerasan pada umat Islam. "Citra seperti ini ingin ditampilkan, dan tampaknya berhasil. Namun yang lebih penting seluruh kelompok atau ormas Islam kembali bersatu dan bisa menemukan siapa pelaku penghasutan," tegas Soeripto.
Pengamat intelijen Wawan Purwanto tidak percaya rusuh Monas merupakan konspirasi untuk mengalihkan isu BBM. Bentrok FPI dan AKKBB merupakan puncak dari masalah kelambatan pemerintah di dalam mengeluarkan SKB Ahmadiyah. Namun Wawan setuju ada pihak ketiga yang bermain.
"Saling tuding antar kedua kelompok Islam ini merupakan api dalam sekam yang akhirnya sudah diperkirakan dan diharapkan oleh pihak ketiga yang menginginkan negeri yang penduduknya mayoritas Islam ini menjadi bercerai berai," kata Wawan.
Sedangkan pakar komunikasi Universitas Indonesia (UI) Effendi Ghazali menilai, bentrokan antara FPI dan AKKBB adalah efek dari kekerasan simbolik yang selama ini terjadi. Contohnya aksi-aksi sporadis kalangan liberal, seperti pelecehan dan penghinaan Adnan Buyung Nasution kepada Ketua MUI KH Ma’ruf Amien. "Jadi, sesungguhnya kekerasan simbolik itu sudah lama dilakukan kalangan liberal terhadap kalangan Islam yang lain," ujar Effendi.
Terlepas ada konspirasi atau tidak, bagaimanapun rusuh Monas harus diusut tuntas. Pengusutan jangan pandang bulu, siapapun yang salah harus ditindak. Polisi juga harus bertindak bijak agar tidak memunculkan persoalan baru. (ron/iy)











































