Tiga hari setelah bentrok Front Pembela Islam (FPI) dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) terjadi, sebuah email yang mengatasnamakan Nong menyebar.
Si email berisi semacam testimoni yang membongkar adanya konspirasi dalam insiden 1 Juni yang membuat belasan orang harus dirawat di rumah sakit (RS).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sang email menceritakan kronologi skenario rusuh Monas dengan cukup detail. Awalnya diceritakan, setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor Jaringan Islam Liberal (JIL) Goenawan Mohamad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA dan Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor.
"Mereka bisa akses langsung ke dalam (Cikeas) berkat orang dalam yaitu Andi Mallarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng," cerita email atas nama Nong tersebut.
Pertemuan di Cikeas itu membahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan para mahasiswa. Lalu SBY minta kalangan JIL mengalihkan isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain.
Rizal, masih kisah di email itu, lantas memberikan usul bagaimana isu kenaikan BBM diganti dengan isu membubarkan FPI dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah. Setelah mendapatkan restu presiden, Goenawan Mohamad, Hamid Basyaib dan Rizal Mallarangeng datang ke markas JIL di Jalan Utan Kayu No. 68 H Utan Kayu. Di Kedai Tempo, mereka membahas bagaimana membuat skenario agar anggota FPI bisa melakukan tindakan anarkis dan perusakan yang membuat masyarakat tidak simpati lagi dengan FPI.
Setelah melakukan diskusi selama 3 jam, ketiga orang itu akhirnya berhasil membuat skenario yang bagus, dengan memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni. Mereka akan membuat aksi damai . Aksi ini dilakukan di Monas. Para peserta yang hadir disetting sedemikian rupa agar anggota FPI turut datang dan membubarkan aksi tersebut.
Goenawan lalu menghubungi SBY melalui ponselnya. "Setelah mendengar penjelasan dari Goenawan secara terperinci, akhirnya presiden menyetujui aksi tersebut dan akan mentransferkan dananya sebesar Rp 10 miliar untuk melancarkan aksi tersebut," tulis si Email.
Si email juga mengungkapkan malam sebelum kejadian, beberapa pentolan JIL berkumpul di markas JIL. Malam itu, tugas-tugas mengundang wartawan untuk meliput aksi tersebut harus sudah beres. Selain itu, juga didapat kepastian Ahmadiyah akan ikut serta dalam aksi tersebut. FPI juga sudah dikontak melalui SMS dengan diberi isu kalau jamaah Ahmadiyah akan menggelar aksi damai di silang Monas.
"Demikian tulisan ini saya buat dengan sebenarnya, karena hal ini yang membuat saya selalu merasa bersalah dan berdosa telah bersama-sama dengan kawan-kawan JIL melakukan pemutaran balik fakta," tulis orang yang mengaku Nong itu sambil mengakhiri emailnya dengan memberikan alamat email nong@isai.or.id.
Nong membantah ia telah menulis email tersebut. Nong membenarkan nong@isai.or.id. yang dicantumkan dalam email itu memang merupakan alamat emailnya. Namun Nong sudah tidak pernah lagi memakai email tersebut karena tidak lagi bekerja di ISAI. "Sudah lama saya ganti email," kata Nong.
Aris Santoso, salah seorang koordinator program ISAI menyatakan Nong sudah tidak aktif lagi di ISAI sejak tahun 2004 karena sedang aktif di Freedom Institute. Aris menduga email ISAI sudah dicatut oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tujuan pencatutan itu menurut Aris, ingin menghancurkan motor penggerak komunitas Utan Kayu itu. "Nong sudah lama tidak bekerja di sini namun masih sering datang ke sini. Emailnya jelas itu dicatut oleh orang yang tidak bertanggung jawab,β kata Aris.
Sayangnya kisah konspirasi di email itu telah menjadi bola liar. Ia menyebar ke mana-mana dan menjadi polemik berkepanjangan di dunia maya. Email itu pertama diposting di kaskus oleh Iam cool pada 4 Juni pukul 11.13 WIB. Malam harinya, email yang sama diposting W242, ID yang dipakai Munarman yang saat itu masih buron untuk mengirim email ke redaksi detikcom dan sejumlah media lainnya. Setelah itu email menyebar ke mana-mana termasuk di kalangan aktivis mahasiswa yang menolak kenaikan harga BBM. (ron/iy)











































