Artalyta: Ini Kan Mesti Ngamanin Bos Kita Semua

Rekaman Telepon Artalyta-Jamdatun

Artalyta: Ini Kan Mesti Ngamanin Bos Kita Semua

- detikNews
Rabu, 11 Jun 2008 17:24 WIB
Jakarta - Beberapa jam setelah jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap tangan menerima suap pada 2 Maret 2008, sang penyuap, Artalyta Suryani, langsung panik. Dia lalu menelepon Jamdatun Untung Udji Santoso, berkonsultasi cara mengelak sehingga mengamankan 'bos kita semua'.

Hal itu terungkap dalam rekaman telepon Artalyta saat menghubungi Untung, yang diputar ulang jaksa penuntut umum Sarjono Turin di Pengadilan Tipikor, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (11/6/2008).

Berikut dialog Artalyta-Untung:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untung (U): Memang dikasih berapa duit?

Artalyta (A): 660 ribu dolar.

U: 4 M (miliar--red)?

A: 6 M (miliar--red).

U: Lailahailallah!

A: Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?

U: Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.

A: Jadi gimana?

U: Tak pikir enam atus juto (enam ratus juta-Red) gitu.

A: nggak, itu banyak. Gimana?

U: Itu untuk siapa?

A: Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?

U: Adu biyung gimana?

A: Heh.

U: Sek...sek (sebentar--red). Kalau kayak gitu, susah itu.

A: Aku kena lho, Mas, kayak gini.

U: Lha iya.

A: Aku bilang kan ajudanku.

U: Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. (Ajudan kok uangnya begitu banyak. Dari mana? Ngarang aja. Ya sudah--red). Gimananya caranya hubungi Antasari.

A: Ya, coba Sampeyan telepon dulu.

U: Udah, mati teleponnya.

A: Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono--red) suruh nyari.

U: Feri juga nggak ngangkat.

A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.

U: (terdiam lama)

A: Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).

U: Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.
A: Ya, di mana dia rumahnya?

U: Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.

A: Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.

U: Ya, iya. Tapi teleponnya aku gak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya gak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jamintel Wisnu Subroto--red).

A: Sekarang susulin.

U: Tak telepon dulu.

A: Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.

U: Aku udah telepon Wisnu, demi Allah ini.

A: Kata Wisnu apa?

U: Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak?
nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta)

A: Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.

U: Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.

A: Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (jaksa Urip--red) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.

U: Uhhh, kacau kabeh. (menghela nafas)

Rekaman ini merupakan lanjutan hasil penyadapan KPK yang telah dibuka di muka sidang tanggal 2 Juni 2008 lalu. Usai mendengarkan rekaman ini, Ketua majelis hakim Mansyurdin Chaniago menanyakan kebenaran suara ini pada Artalyta. Dan Artalyta membenarkan suara perempuan yang berdialog dengan Untung adalah suaranya. (aba/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini