Kekesalan majelis hakim yang dipimpin Mansyurdin Chaniago mulai muncul saat Urip terus menjawab hampir semua pertanyaan hakim dengan lupa atau tidak tahu. Bahkan, setelah diingatkan, Urip tetap menjawab dengan dua kata yang menjadi jurus pamungkasnya itu.
Misalnya saja, saat hakim memutar rekaman percakapan telepon antara dua orang laki-laki dan perempuan dan menanyakan suara siapa yang berbicara, Urip mengaku tidak tahu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak tahu," jawab Urip datar.
Hakim pun kemudian memperingatkan, sebagai ahli hukum, Urip sebaiknya tidak sembarangan mengatakan lupa. "Saya ingin saudara kooperatif," tandas Mansyurdin.
"Ya tidak tahu alasannya apa. Itu logat saudara, irama sama persis.
Pengunjung pun terheran-heran dengan saudara, jaksa kok begitu, kok ngono," lanjut Mansyurdin sewot.
Namun, lagi-lagi aksi lupa dan tidak ingat diulangi Urip. Kali ini, Urip mengaku lupa pada seri dan nomor telepon yang digunakannya.
"Saya punya banyak nomer, saya tidak ingat apakah nomer itu nomer saya," lanjut Urip.
Kekesalan hakim pun memuncak. Mansyurdin pun kembali memperingatkan Urip.
"Saudara itu jaksa, saudara bukan orang bodoh jangan coba-coba mengelabui majelis," hardiknya.
"Saya lupa," elak Urip datar.
"Boleh lupa tapi jangan begitu. Saudara jangan seperti anak SMA. Saudara penuntut umum dan penyelidik kasus BLBI. Berapa tahun saudara jadi jaksa," tanya Mansyurdin.
"17 tahun," jawab Urip
"Jangan coba-coba mengelabui saya. Saya sudah 30 tahun jadi hakim
banyak saya ketemu orang yang kalibernya lebih dari saudara," ancamnya.
(ken/fay)











































