Penangkapan Hermanto direncanakan pada Sabtu, 7 Juni malam pukul 22.00 WIB. Tetapi untuk memuluskan operasi ini, polisi menghubungi "orang pintar" lewat telepon terlebih dahulu.
Menurut sumber detikcom di kepolisian, isi pembicaraan telepon tersebut seputar apakah hari Sabtu merupakan hari baik untuk menangkap Hermanto. "Kemudian komandan memberikan identitas Hermanto kepada orang pintar tersebut seperti hari lahir dan weton target," ujar sumber yang tidak mau disebutkan identitasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih menurut orang pintar tersebut, makhluk yang menjaga Hermanto sangat sakti dan digdaya. Terlebih, hari Sabtu, merupakan hari baik bagi Hermanto. "Jadi kalau ditangkap hari Sabtu, nasib baik berpihak ke Hermanto. Nanti bisa-bisa polisi kena sial," tambahnya.
Mendapat wejangan ini, polisi akhirnya menangkap Hermanto pada Minggu, 8 Juni dini hari atau sekitar pukul 02.00 WIB di rumahnya, di Jalan Tanjung Mas Utama No A 11/ 1, Perumahan Tanjung Mas Raya, Jakarta Selatan. "Yang penting sudah masuk hari Minggu," ujarnya.
Tidak sampai di situ kesaktian Hermanto. Saat pembongkaran, Minggu, 8 Juni, saat menyaksikan otopsi korban di rumah TKP, Hermanto mulutnya tidak henti-hentinya komat-kamit membaca mantra.
"Dan saat diintrograsi polisi, dia sama sekali tidak menunjukan ekspresi menyesal, stress, kacau, takut atau apapun seperti pada umumnya penjahat yang terbongkar aksi kejahatannya," pungkasnya. (asp/anw)











































