"Mohon keluar saja!" kata Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar dengan suara keras, ketika pengusul hak angket menyampaikan pandangannya, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/6/2008).
FPDIP yang mengusulkan hak angket menunjuk wakilnya Bambang Wuryantoro membacakan pandangan fraksinya di depan podium. Tak lama setelah itu, 15 mahasiswa yang duduk di tribun beraksi ingin menggelar spanduk berwarna hitam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini rumah rakyat! Kenapa kami dihalang-halangi! Kami juga di sini dulu waktu tahun 1998. Mahasiswa menduduki DPR tahun 1998!" teriak salah satu dari mereka.
Akhirnya, spanduk itu berhasil diambil Pamdal. 3 Pamdal lain mendatangi mahasiswa itu yang membuat suasana makin gaduh. Kegaduhan itu mengalihkan perhatian peserta sidang. Lantas pimpinan sidang Muhaimin Iskandar memberi instruksi. "Mohon di atas jangan ribut," kata Cak Imin.
Pamdal meminta para mahasiswa itu untuk meninggalkan ruangan sidang paripurna. Namun mahasiswa tetap ngotot ingin bertahan di ruangan. Adu argumentasi yang gaduh Pamdal-mahasiswa bertahan hingga 3 menit.
Hingga akhirnya, "Yang di atas mohon keluar saja. Yang di atas tolong keluar. Yang di atas mohon keluar saja, yang di atas tolong keluar," perintah Cak Imin.
Setelah diperintah pimpinan sidang, mahasiswa pun keluar. "Ah DPR tidak memihak rakyat!" teriak salah satu dari mereka. "Tolak kenaikan BBM!" timpal lainnya sambil ngeloyor keluar ruangan diiringi Pamdal.
Mahasiswa yang mengenakan almamater beraneka warna tersebut berasal dari sejumlah kampus antara lain Universitas Moestopo, Universitas Bung Karno, Universitas Jayabaya, Universitas Nasional dan UKI Jakarta. (nwk/aba)











































