"Dia bukan diculik, dia sengaja tidak hadir," ujar anggota Komnas HAM Johny Nelson Simanjuntak kepada detikcom, Senin (9/6/2008).
Johny mengetahui hal itu setelah berhasil menemui Djoko di Nganjuk, Jawa Timur, pada Minggu 1 Juni 2008. Johny datang dengan anggota Komnas HAM lainnya yakni Ernawati. Dalam pertemuan itu, Djoko membeberkan kalau dia sengaja tidak datang ke Istana untuk mempresentasikan temuannya pada 20 Mei 2008 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang tanggal 20 itu strategi. Dia merasa ditekan untuk menyerahkan penemuan dia kepada Iswahyudi, seorang pengusaha yang menjadi mitra Heru Lelono. Ada kata-kata yang dilontarkan kalau tidak segera ke Jakarta akan tinggal nama," ucap Johny.
Johny membeberkan, sebelum 7 Mei 2008 Iswahyudi dan Djoko telah sepakat untuk mengembangkan blue energy di Nganjuk. Sebagai puncak dari temuan itu, mereka akan launching penemuan pada Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008. Namun karena perlu pemasangan instalasi pada 7-20 Mei 2008, Djoko diminta untuk segera datang ke Jakarta.
"Sebelum tanggal 7 Mei, Djoko sudah disodori kontrak perjanjian yang isinya menyerahkan hasil temuan kepada Iswahyudi, dan penemunya tetap diakui atas nama Djoko," jelasnya Johny. Namun, lanjut Johny, Djoko tidak mau datang karena hasil temuannya takut dikomersialkan dan dipolitisasi.
"Kalau dia telah serahkan, berarti dia sudah nggak punya apa-apa. Itu tidak riil. Penemuannya bisa dikomersialkan dan dipolitisasi. Padahal dia maunya penemuannya untuk seluruh rakyat Indonesia," tandas Johny.
Iswahyudi saat dikonfirmasi detikcom, menolak berkomentar. Iswahyudi adalah petinggi Sarana Harapan Indo (SHI) Group, perusahaan yang bermaksud memproduksi, mendistribusikan dan memasarkan bahan bakar alternatif blue energy. (nik/nrl)










































