Ferry Bicara Pilpres dan PRC

Ferry Bicara Pilpres dan PRC

- detikNews
Senin, 09 Jun 2008 08:00 WIB
Ferry Bicara Pilpres dan PRC
Jakarta - Tamu detikcom kali ini adalah Ferry Mursyidan Baldan. Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar yang juga Ketua Pansus RUU Pemilihan Presiden (Pilpres) ini datang untuk berdiskusi. Tidak hanya membahas Pilpres, tapi diskusi juga melebar ke arah PRC dan PSH.

Hah.. PRC, PSH? Apa itu? Pasukan Reaksi Cepat? Ya jelas bukan. Yang dimaksud mantan tokoh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini adalah akronim dari kelompok perempuan yang ada di DPR. Dua istilah tersebut muncul saat diskusi mengenai RUU Pilpres ini diselingi dengan pertanyaan mengenai kasus dugaan pelecehan seksual di gedung DPR oleh anggota DPR dari FPDIP Max Moein.

Ferry bicara agak panjang mengenai kasus itu. Namun, sayang off the record. Cerita Ferry hanya untuk kalangan dalam redaksi detikcom saja. Nah, di tengah pembicaraan itu, Ferry memperkenalkan istilah yang selama ini tidak pernah terdengar oleh wartawan terkait kasus-kasus yang menyerempet dugaan pelecehan seksual itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PRC itu adalah singkatan dari Pasukan Rambut Cokelat. Sementara PSH singkatan dari Pasukan Stocking Hitam. Ha ha...Apa maksudnya? Maaf, tidak bisa ditulis di sini, karena dikhawatirkan banyak pihak yang tersinggung.

Ferry Mursyidan Baldan yang saat ini menjabat Ketua Umum IKA UNPAD (Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran) datang ke kantor redaksi detikcom di bilangan Jalan Warung Buncit Jakarta Selatan pukul 20.00 WIB, Jumat (6/8/2008). Karena ini kunjungan pertama Ferry ke markas detikcom, Ferry mengajak wartawan detikcom yang sehari-hari mangkal di DPR, Muhammad Nur Hayid, untuk berangkat bersama dalam satu mobil. Takut nyasar.

Maka, meluncurlah mobil Nissan Teana F 333 RI itu meluncur dari Senayan pukul 18.00 WIB. Membelah Jalan Gatot Subroto yang macet berat, akhirnya Ferry baru tiba di kantor detikcom pukul 20.00 WIB. Padahal, acara diskusi akan dimulai pukul 19.00 WIB. Molor 1 jam tak masalah. Seusai santap makan malam bebek goreng 'Soeryo', diskusi mengenai Pilpres ini pun dimulai.

Dari jajaran detikcom, hadir Wakil Pemimpin Redaksi detikcom Arifin Asydhad dan jajaran redaktur dan asisten redaktur detikcom yang berjumlah sekitar 15 orang. Pemimpin Redaksi Budiono Darsono berhalangan hadir karena masih berada di Bangkok, Thailand, untuk acara yang sangat penting.

Diskusi dibuka oleh Wakil Pemred dengan perkenalan para awak detikcom plus penjelasan sedikit perkembangan detikcom, salah satunya mengenai pageviews yang saat ini mencapai 15 juta per hari. Di usianya yang genap 10 tahun pada 9 Juli 2008 nanti, detikcom tetap melayani pembaca dengan berita cepat dan akurat. Yang terpenting, detikcom tetap pada rel independen, sehingga beritanya tetap bernas dan objektif. Asal tahu saja, dalam kepemilikan detikcom, tak ada unsur dari partai politik atau politisi.

Ferry membuka paparannya dengan pengakuan sebagai pembaca setia detikcom. Dia tidak hanya membaca detikcom 5 jam sekali, tapi setiap saat bila ada waktu luang. Alumnus Hubungan Internasional Unpad ini bukan termasuk politisi yang gagap internet (gapnet). Bagi dia, membaca detikcom dilakukan kapan saja dan di mana saja. Sebab Ferry membaca detikcom tidak hanya dari laptop, tapi juga dari handphone.

"Ini sudah kebiasaan saya dari dulu. Teman-teman di DPR juga begitu. Begitu ada yang ramai-ramai, kunjungi saja detikcom. Pasti sudah ada beritanya di situ dan ramai," kata pria berkacamata ini.

Dengan hidangan berbagai jenis buah-buahan, Ferry juga memaparkan perkembangan pembahasan RUU Pilpres di Pansus maupun di Panja. Ada sejumlah pasal krusial yang sampai sekarang masih alot dibahas, karena masing-masing perwakilan fraksi memiliki kepentingan masing-masing. Pasal figur capres menjadi perbincangan sangat alot.

"Tentang syarat pendidikan ada yang mengusulkan capres harus S1, ada juga yang mengusulkan cukup lulusan SMA. Soal umur, ada fraksi yang membatasi maksimal 60 tahun, ada fraksi yang meminta usia tidak dibatasi," kata Ferry.

Soal syarat partai politik yang bisa mencalonkan pasangan capres-cawapres juga jadi tarik ulur. "Golkar menginginkan parpol yang mendapat minimal 30% suara dalam Pemilu legislatif yang bisa mengajukan capres-cawapres. Tapi, ada parpol lain yang mengusulkan 15%, bahkan ada yang mengusulkan 3%. Semua ini masih dalam pembahasan," ujar dia.

Diskusi berjalan serius, tapi santai. Semua awak redaksi detikcom yang hadir melontarkan pertanyaan. Sampai-sampai Ferry melayani diskusi ini hingga pukul 23.00 WIB. Ini diskusi yang berakhir paling larut dari diskusi-diskusi internal yang digelar detikcom selama ini. Sebelum meninggalkan markas detikcom pukul 23.30 WIB, Ferry melongok markas detikcom.

Seperti biasa, kami memberi kenang-kenangan. Isinya bukan barang-barang mahal, sehingga tak usah dikhawatirkan sebagai modus gratifikasi.. he he. Kami memberi kaos 'Kopi Paste', buku 'Menelusuri Jejak Brack Obama' dan buku 'Hari-hari Terakhir Jejak Soeharto Setelah Lengser'. Dua buku ini merupakan buku yang diterbit detikcom bersama Media Kita, awal tahun ini. Dua buku ini cukup laris manis di pasar dan saat ini sedang dalam proses cetak kedua.

Ingin punya buku ini? Silakan datang ke toko-toko buku, termasuk toko buku Gramedia dan Gunung Agung.

Keterangan Foto:

1. Jajaran redaktur detikcom saat berdiskusi dengan Ferry Mursyidan Baldan
2. Tetap semangat meski diskusi berlangsung hingga larut malam
3. Ferry menjelaskan mengenai perkembangan pembahasan RUU Pilpres
4. Gaya Ferry saat menjadi narasumber diskusi
5. Akhir dari diskusi, pemberian bingkisan (asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads