"Sebagai aktivis hukum dan HAM Munarman harusnya patuh pada hukum dan segera menyerahkan diri," jelas Koordinator Kontras Aceh Asiah Uzia saat berbincang-bincang dengan detikcom, Sabtu (7/6/2008).
Asiah cukup terkejut membaca sepak terjang Munarman di media. Sebab, meski dikenal sebagai yang keras dan tegas dalam memegang prinspip, Munarman tidak pernah melakukan kekerasan fisik.
Ketika ditanya apakah ada kemungkinan Munarwan buron ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Asiah mengatakan, tidak tahu. Tapi yang jelas, kata Asiah, para aktivis Kontras Aceh dan Munarman sudah tidak ada komunikasi lagi sejak dua tahun lalu.
"Dia bisa ada dimana saja, termasuk di Aceh. Tapi yang pasti kami tidak pernah berkomunikasi dengannya sejak dua tahun lalu. Terakhir saya bertemu Munarman saat Kongres Kontras di Medan," jelasnya.
Sebagai teman, Asiah meminta Munarman segera menyerahkan diri. Sebab sejauh yang dia tahu Munarman bukan seorang pengecut.
Munarman pernah menjabat sebagai Pjs Koordinator Kontras Aceh 1999-2000, selanjutnya ia hijrah ke Jakarta bergabung dengan YLBHI. Di tahun 2006, Munarman hengkang dari YLBHI dan bergabung ke Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan aktif dalam aksi-aksi yang dilakukan ormas-ormas Islam. Terakhir, ia menjadi Panglima Laskar Islam (LKI). Pasukan yang ia pimpin kemudian terlibat aksi penganiayaan terhadap beberapa anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. (AKKBB) saat melakukan aksi demonstrasi di Monas, pekan lalu.
(ddg/ana)











































