Saya sedih melihat itu. Bagi saya, agama adalah ketentraman. Dia keyakinan menuju Tuhan. Jika sama agamanya tetapi salah, wajib menampar dan mengingatkan agar tidak rendah imannya. Tetapi jika beda sudah tergaris ‘agamamu agamamu, agamaku adalah agamaku’. Syariat yang dogmatis adalah hukum Tuhan. Pembeda sekaligus penyama. Mengapa kalau beda harus dilawan, dan jika sama harus berlawanan?
Saya beragama Islam. Untuk lima waktu, insyaallah masih bisa terjaga. Ketika di Jogyakarta dan Solo, banyak teman saya Kejawen. Mereka lebih condong ke Buddha dan Hindu, dan juga banyak yang sinkretis. Artinya, dalam aplikasi 'manembah mring Gusti' terdapat campuran keyakinan.
Entah kenapa, saya ayem berkumpul dengan Mbah Marmo tokoh Kejawen di Gunung Lawu. Saya lerem bersanding dengan Mbah Nono juru kunci Parang Kusumo. Saya tentrem jagongan dengan Mbah Maridjan juru kunci Gunung Merapi. Dan jenjem bicara dengan Marry, tokoh theosofi mantan artis film Belgia yang meyakini bakal mokswa di Jawa, yang kini mukim di Kasultanan Solo.
Di Jawa Timur, saya biasa begadang dengan almarhum Kiai Jalil di Pasulukan Thoriqoh Agung Tulungagung, bersenda gurau dengan Gus Munif di pondok Kediri, jagongan dengan Gus Ali di Bumi Shalawat Tulangan Sidoarjo, serta bermalam-malam diskusi soal iman dan ketakwaan dengan Gus Malik yang punya masjid bawah tanah di Mojosari. Malah di Sunan Drajat saya bisa bermalam-malam dengan Kiai Ghofur omong ngalor ngidul.
Di Bali, teman saya mayoritas Hindu. Dia bukan sekadar Hindu, tetapi spiritualis agama Hindu. Nyoman Subamia teman terdekat saya. Dia pengamal ilmu leak, juga Mangku Teges Kanginan, serta Ngurah Artha yang ibunya adalah Balian (dukun).
Ketika di Srilangka saya akrab dengan Abbey Vajra. Dia pemeluk taat agama Buddha, juga sangat kritis terhadap pendeta Buddha yang terlalu berpikiran duniawi. Dia pula yang mengajak saya memasuki kuil kematian di Colombo, serta menyusuri istana dan kuil Anuradaphura, Sighiriyyah, serta Bod Tree yang ditanam Sidharta Gautama.
Saat di India, selain saya dikenalkan dengan Guru Ji, spiritualis yang amat dihormati di India, saya juga sangat akrab dengan Prabu Darmayasa. Saking akrabnya, saya sudah seperti layaknya saudara sendiri. Saya tidak kagok menemaninya saat ritus. Juga ketika dia dimintai tolong menyembuhkan orang sakit dengan cara dia. Malah ketika waktunya salat, dia selalu mengingatkan saya. “Mas waktunya zuhur, mas waktunya ashar.”
Saya menyusuri Ajmer dan Gujarat tanpa beban. Keliling Mumbay (dulu Bombay), Phune, Bhopal, dan tinggal beberapa minggu di Taj Mahal bisa enak-enak saja. Malah ketika di New Delhi saya lebih kerasan di pasar-pasar Delhi tua yang mirip Pasar Pabean di Surabaya ketimbang ibukota India itu. Betapa hati saya merasa bebas, kendati saya Islam dan menunaikan ibadah berdasar agama saya di tempat yang mayoritas bukan pemeluk agama saya.
Ketika di Madinah, hati saya tersentuh dengan Masjid Nabawi yang amat indah. Di kala puasa, saya biasa lupa segalanya di masjid ini mencari pahala. Hanya dengan makan seadanya saat buka puasa bersama yang diberikan jamaah yang mampu, saya bisa tidak keluar berhari-hari dari masjid ini, biarpun saya menginap di hotel Mawaddah yang berada persis di depan masjid.
Di Makkah, pahala ibadah dijanjikan Allah amat tinggi. Di hotel-hotel disediakan ruang untuk salat. Dan saat itu Hotel Hilton tempat menginap saya hanya sebagai ampiran. Batin ini terasa tenang jika sedang ibadah. Salat sunah tidak hanya kupanjatkan untuk diri sendiri, tetapi juga kupersembahkan bagi orang-orang yang kukasihi. Subhanallah. Betapa berbunga-bunga hati ini di Makkah al mukarromah !
Tapi di tanah air, negeri yang mayoritas Islam ini, betapa syak wasangka terus terjadi. Di banyak daerah digalang kelompok-kelompok, yang menegasikan perbedaan sebagai sesuatu yang harus dibinasakan. Padahal sejarah telah bicara, fitrah beda yang dipertentangkan akan berakhir tragis seperti Habil dan Qabil, putra Nabi Adam As.
Saya berharap, jika kita mengaku beragama, dosa dan pahala sifatnya individual. Itu bekal menuju akhirat, ‘ruang’ yang diidam-idamkan bagi semua. Manembah bukan ‘perang fisik’ tetapi memerangi hawa nafsu. Berdamailah saudaraku!
Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (iy/iy)











































