"Kalau penyikapannya mempertajam konflik serta cara-cara 'memberangus', bangsa ini hanya akan terkurung pada tindakan saling menghancurkan dan permusuhan yang langgeng. Hal inilah yang kita cemaskan di masa mendatang," jelas Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (Cides), Syahganda Nainggolan, dalam rilis yang diterima detikcom, Selasa (4/6/2008).
Menurutnya, permusuhan pada sesama bangsa, apalagi seagama, sejauh ini terus meluas hingga mencoreng wajah demokrasi di tanah air, termasuk membunuh budaya kekeluargaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan demikian, permusuhan tidak berlanjut lebih frontal di tingkat bawah, dan bangsa kita tidak menjadi tertawan bangsa lain," tegasnya.
Suasana dialog kini, lanjut dia, seolah hilang sama sekali dalam khazanah kebangsaan maupun di antara satu golongan. Hal itu dirasakan ironis, mengingat bangsa Indonesia sejak dulu, dikenal tidak menyukai perkelahian sesama bangsa sendiri.
"Tapi kenyataannya, bangsa kita justru lebih pandai berkelahi dibanding melakukan dialog," ujar Syahganda.
Syahganda juga mengimbau aparat polisi secepatnya menindak pelaku kerusuhan Monas melalui proses hukum. Penyelesaian hukum yang lamban dari aparat, hanya membuat situasi bertambah buruk serta memicu perseteruan yang panjang.
"Polisi tidak boleh gamang, pihak mana pun yang berbuat brutal harus dijerat oleh hukum," katanya.
(mly/mly)










































