Syafi'i Ma'arif: Bangsa Indonesia Terjebak Pragmatisme Konyol

Syafi'i Ma'arif: Bangsa Indonesia Terjebak Pragmatisme Konyol

- detikNews
Selasa, 03 Jun 2008 22:54 WIB
Jakarta - Carut marut bangsa mulai dari penjualan aset BUMN sampai konflik FPI adalah buntut dari berpikir jangka pendek. Bangsa Indonesia terjebak pragmatisme yang konyol.

Hal ini disampaikan pendiri Ma'arif Institute, Ahmad Syafi'i Ma'arif dalam sambutan Ma'arif Award 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (3/6/2008).

Ma'arif prihatin dengan privatisasi BUMN dan konflik horizontal antara FPI dan AKKBB. Benang merah masalah ini akibat perilaku masyarakat yang berpikir pendek tanpa melihat akibat jangka panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu pragmatisme konyol. Tunggu saja, Indonesia masuk museum sejarah," kata Maarif.

Menyoroti masalah FPI, pria yang dipanggil Buya ini mengatakan masalah iman tercampur aduk dengan hak asasi. Seorang atheis pun menurut dia berhak hidup di muka bumi.

"Perkara Tuhan marah, itu urusan mereka dengan Tuhan," imbuhnya.

Buya menilai tidak ada jaminan bangsa Indonesia bisa bertahan jika rakyatnya hanya berpikir jangka pendek. Dia menyarankan para pemimpin di Indonesia membaca lagi tulisan pembelaan diri Soekarno 'Indonesia Menggugat' dan tulisan Mohammad Hatta dalam pembelaan diri di Belanda, 'Indonesia Merdeka'.

"Saya hanya ingin bangsa ini bertahan sampai satu hari sebelum kiamat," pungkasnya.

Ma'arif Award 2008


3 Orang tokoh mendapat Maarif Award 2008. Mereka adalah Cecilia Yulianti Hendayani dari Blitar (pendidikan alternatif), Hasanain Djuaini dari Lombok Barat (lingkungan hidup) dan Ahmad Tafsir dari Semarang (dialog lintas agama).
(fay/mly)


Berita Terkait