"Kalau ada kekerasan seksual, tidak mungkin dong dia datang lagi untuk dipekerjakan kembali. Dan tentu kalau ada kekerasan seksual dia langsung ke polisi untuk membuat visum kan? Itu kan logika dari kekerasan seksual. Itu ada visum dan ada bukti-bukti sperma dan sebagainya," kata Max kepada wartawan usai diperiksa BK di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/6/2008).
Pada kesempatan itu, Max Moein juga menceritakan kisah bagaimana Desi menjadi sekretaris pribadinya. Berikut pengakuan lengkap Max Moein mengenai Desi, perempuan cantik yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual Max:
Pak, Desi bilang bapak melakukan kekerasan seksual?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika saya terpilih kembali pada periode kedua ini, sekretaris saya yang pertama itu setahun kemudian menikah, sehingga saya perlu mengganti. Di situ saya direkomendasi Pak Iskandar, masuklah Desi. Dan karena saya sudah kenal sejak saya menjadi ketua Pansus BLBI, ya saya terima saja.
Tetapi belakangan ternyata Desi banyak bermasalah karena ada beberapa debt collector yang datang mencari. Ternyata dia menggelapkan 9 mobil yang disewa dari rental kemudian digadaikan pada orang, sehingga pihak tempat dia digadaikan dan pemilik mobil itu mencari ke kantor saya, karena Desi selalu membuat alasan bahwa mobil itu saya yang pinjam.
Nah karena seringnya dicari oleh debt collector, Desi banyak tidak masuk kerja dan banyak meminjam uang kepada sekretaris di sekitar ruangan kami di DPR. Lalu suatu waktu karena sudah terpepet, laptop yang saya beli untuk saya itu diambil. Tapi waktu saya tanyakan katanya ada dalam laci. Ketika saya paksa katanya kuncinya ada dalam rumah, ketika saya congkel, saya paksakan untuk dibuka, dia lari pulang. Dan saya congkel, ternyata laptopnya sudah tidak ada.
Soal tindak kekerasan seksualnya gimana?
Di media dia katakan bahwasanya ada kekerasan seksual dan sebagainya, tetapi pada kenyataannya kalau ada kekerasan seksual, dia trauma, kalau melihat mobil saya dia gemetar, dia perlu psikiater yang mempan. Tapi kenyataanya setelah saya berhentikan dan saya mengambil Bulqis sebagai staf saya yang baru, dia datang minta supaya dipekerjakan kembali.
Bahkan juga pernah mengutus om-nya supaya saya bisa terima kembali. Saya tidak mau terima kembali karena sudah ada Bulqis, karena jatah anggota satu sekretaris, sehingga terjadi keributan dengan Bulqis. Bulqis sempat memanggil Pamdal untuk mengusir Desi dari ruangan.
Jadi kalau memang Desi trauma, dia ada kekerasan seksual dan sebagaianya, kenapa dia memaksakan buat masuk lagi. Lalu untuk membuktikan bahwa dia banyak meminjam rental, bermasalah dengan debt collector, di samping saya ini ada ibu dan bapak yang mobilnya dipanjam Desi dan membuat masalah, boleh ditanyakan pada mereka. Bagaimana Desi meminjam mobil dan bermasalah. Boleh ditanyakan pada Bulqis bagaimana dia ingin masuk kembali.
Jadi dilakukan suka sama suka dong pak?
Kalau ada kekerasan seksual, tidak mungkin dong dia datang lagi untuk dipekerjakan kembali. Dan tentu kalau ada kekerasan seksual, dia langsung ke polisi untuk mambuat visum kan? Itu kan logika dari kekerasan seksua, ada visum dan ada bukti-bukti sperma dan sebagainya. Sebelum itu ada pengaduan dari Luhut yang mensomasi saya karena memberhentikan Desi tanpa peringatan dan pesangon.
Apakah siap diberi sanksi pak?
Ya tentu otomatis. Masalah ini sudah melebar dan banyak dugaan bahwasanya ada kekerasan seksual, foto itu, Desi dan sebagainya, maka saya terpanggil memohon waktu BK untuk klarifikasi.
Bagaimana keluarga Pak?
Tentu keluarga syok, siapa pun logikanya, istri dan anak melihat pemberitaan ini pastilah syok.
Bagaimana dengan sikap Ibu Mega?
Ketua umum menyerahkan melalui BK, ke fraksi dan DPP. Ada urutannya. (yid/asy)











































