Sejumlah aktivis prodemokrasi di Palembang, kota asal Munarman, mengaku terkejut dengan keterlibatan Munarman di balik aksi kekerasan massa FPI terhadap aktivis keberagaman beragama di Monas, Jakarta, Minggu 1 Juni.
"Saya terkejut. Saya betul-betul terkejut. Tapi, mungkin tindakan itu sesuai dengan keyakinannya," kata Tarech Rasyid, penggerak Sekolah Demokrasi Banyuasin, kepada detikcom, melalui telepon, Senin (02/06/2008).
Menurut Tarech, sejak kali pertama mengenal Munarman sebagai mahasiswa Universitas Sriwijaya dan magang di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang, sekitar pertengahan 1990-an, Munarman dikenal antikekerasan. "Dia selalu di depan membela setiap aksi kekerasan. Memang dulu dia sangat mendukung demokrasi yang dihembuskan oleh Barat," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah SMS dari beberapa aktivis prodemokrasi di Indonesia juga masuk ke detikcom. Intinya menyatakan keterkejutan atau bertanya, kenapa Munarman berubah menjadi "suka" kekerasan. "Ada apa dengan Munarman? Kenapa dia menjadi seperti itu?" begitu salah satu SMS yang masuk.
Mantan Direktur LBH Palembang Suharyono, yang mana Munarman pernah menjadi stafnya, mengatakan Munarman itu orangnya keras dalam menegakkan sebuah keyakinan. "Dia itu kalau sudah yakin dengan sesuatu, dia berani di depan dan berkorban. Dulu, dia menonjol sebab selalu berada di depan. Nah, kalau sekarang dia menjadi yang lain, bukan sesuatu yang mengejutkan. Sebab begitulah orangnya, selalu membela keyakinan," kata Suharyono.
"Dia mungkin percaya buat melawan neoliberalisme Amerika dan anteknya, hanya dengan cara seperti itu," kata Suharyono.
"Tapi, yang saya kenal dulu, sebagai muslim Munarman biasa saja. Tidak fundamentalis. Seperti umumnya umat muslim Indonesia-lah," katanya.
Munarman sebelumnya memang dikenal sebagai aktivis prodemokrasi. Dia pernah menjabat sebagai Ketua YLBHI. Pria asal Palembang ini juga pernah menjadi Koordinator Komite Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). (tw/djo)











































