Pengiriman Bantuan Secara Sembunyi ke Myanmar Terus Berlangsung

Laporan dari Thailand

Pengiriman Bantuan Secara Sembunyi ke Myanmar Terus Berlangsung

- detikNews
Senin, 02 Jun 2008 16:47 WIB
Bangkok - Masih tertutupnya akses untuk mengirimkan bantuan secara terbuka ke Myanmar, membuat Dompet Dhuafa-Indonesia Care Connection (DD-ICC) tetap mempertahankan pengiriman bantuan secara tertutup. Dengan memanfaatkan jaringan relawannya di Thailand dan Myanmar, bantuan didistribusikan dengan cara yang rumit.

Koordinator Relawan DD-ICC di Thailand, Lu Lu Sern menyatakan,  sejak mulai mendistribusikan bantuan pada awal pekan lalu, hingga saat ini bantuan yang sudah diterima para korban meliputi tenda plastik, logistik berupa makanan dan obat, pakaian wanita, sarung serta uang tunai.

"Mereka terharu dapat bantuan masyarakat Indonesia dan berharap bantuan itu terus dapat dikirim, sebab sebagian mereka tidak kuat menunggu berhari-hari, kadang di bawah hujan hanya untuk mendapatkan bantuan makanan," kata Sern, kepada detikcom, Senin (2/6/2008) di Mae Sot, kota kecil di Thailand yang perbatasan langsung dengan Myanmar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sern menyatakan, barang-barang bantuan yang didistribusikan itu dibeli di sekitar Kota Rangon. Mereka tidak bisa membawa logistik, semacam tenda yang lebih, atau alat memasak dan pemurni air. Sebab jika dibawa dari Thailand, pemeriksaan sangat ketat di perbatasan dan di sepanjang jalan menuju penampungan para korban.

"Sementara izin masuk secara resmi belum kita peroleh. Kami mengirim bantuan masyarakat Indonesia secara sembunyi. Tentu dengan perasaan khawatir," kata Sern yang berkewarganegaraan Thailand.

Sementara, Sunaryo Adhiatmoko, Ketua Tim  DD-ICC menyatakan, pihaknya menargetkan waktu selama satu bulan untuk aksi kemanusiaan ini. Meski perwakilan DD-ICC yang dikirim dari Jakarta akan segera ditarik pulang ke Tanah Air, namun aksi kemanusiaan di Myanmar tetap diteruskan melalui relawan DD-ICC yang ada di Mae Sot.

"Kita sangat serius membantu koran bencana di Myanmar karena alasan kemanusiaan. Apalagi puluhan ribu umat muslim di sana menjadi korban. Basis kami lembaga zakat. Sementara korban muslim di Myanmar sudah mencapai puluhan ribu," kata Sunaryo.

Bantuan ini, kata dia, tak sebanding dengan jumlah korban sebenarnya. "Tapi kehadiran kami di sana cukup menjadi oase. Sebagaimana kita tahu, hingga hari ini junta Myanmar masih menutup diri masuknya NGO dan pekerja kemanusiaan. Meski diberitakan junta melunak, kenyataannya lembaga kemanusiaan tetap tak mendapat visa. Ini ironis," kata Sunaryo geram.
(rul/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads