Wapres era Soeharto, Adam Malik dibodohi Cut Zahara Fona, perempuan tak lulus SD yang mengaku janin di perutnya bisa mengaji. Era Gus Dur, ada Soewondo, tukang pijat Gus Dur yang berhasil membobol Rp 35 miliar uang Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog).
Zaman Megawati, Menag Said Agil Al-Munawar terkena skandal penggalian situs Batutulis. Zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ada geger blue energy. Sang penemu blue energy, Joko Suprapto, yang tidak memiliki latar belakang penelitian yang jelas disebut sebagai penipu oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mengapa Istana bisa dipecundangi para penipu? Apa yang salah? Sejarahwan Universitas Indonesia (UI) Anhar Gonggong menganalisa, kasus penipuan dengan korban Istana umumnya muncul saat terjadi krisis.
Raja Idrus dan Ratu Markonah berhasil membodohi sang presiden karena waktu itu Soekarno sedang mengalami krisis untuk membebaskan Irian Barat. Pemerintah Megawati dibelit kasus utang negara yang menumpuk. Pemerintah SBY terjerat krisis energi akibat harga minyak dunia yang terus melonjak.
"Seperti kondisi sekarang ini, harus diwaspadai, sekarang ini pasti akan banyak penipu-penipu yang muncul. Para pemimpin dan rakyat jangan mudah percaya," kata Anhar Gonggong.
Penipu bisa masuk Istana juga karena aturan protokoler dari zaman Soekarno sampai sekarang masih lemah. Protokoler harus lebih ketat. Ini bukan berarti kemudian tidak mau nerima tamu. Tapi tamu yang diterima harus betul-betul diketahui identitas dan latar belakangnya sehingga presiden betul-betul tahu perlu menerima tamu itu atau tidak.
Istana bisa dibobol penipu juga menunjukkan lemahnya koordinasi antardepartemen. Anhar mengungkapkan, ketika ia menjabat Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tidak pernah dilibatkan saat Menag Said Agil akan menggali situs Batutulis Bogor.
Semestinya, pihak Istana bisa mengecek ke departemen terkait bila ada sesuatu yang penting. Jangan kerja sendiri-sendiri."Tinggal tanya saja, pasti departemen punya data-data tentang orang terkait. Tapi pemerintah sukanya kerja sendiri-sendiri," kritik Anhar.
Pengamat politik dari Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto menyarankan pemerintahan SBY mengadopsi sistem kepresiden Amerika Serikat (AS). Di AS, terdapat kelompok West Wing yakni para ahli yang bertugas menyaring informasi, sebelum masuk ke Ruang Oval (ruangan Presiden AS). "Nah, West Wing itu diisi orang profesional, bukan partisan. Ada baiknya ini dicontoh," kata Arya. (iy/nrl)











































