Kalau saja Thomas Alfa Edison masih hidup, dia bisa menikmati hasil penemuannya di bidang listrik dengan naik kereta listrik supercepat yang dikembangkan banyak negara maju.
Gara-gara penemuannya, kereta api tidak lagi melulu berbahan baker diesel seperti yang diciptakan Murdocks atau memakai batubara. Kereta api kini berlomba menempuh perjalanan waktu yang paling cepat dengan mengandalkan listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reporter detikcom Irna Gustia berkesempatan mencoba kereta api supercepat TGV itu dalam perjalanan Paris-Belgia pada 25 Mei 2008 dan rute Luxemburg-Paris pada 28 Mei 2008.
Terbukti memang kereta api TGV dengan nama Thalys itu benar-benar nyaman dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit untuk jarak Paris-Brussels, Belgia, sepanjang 300 kilometer.
Dari bandara domestik Paris, perjalanan menuju Brussels dimulai dengan membayar tiket yang lumayan mahal 75 euro atau Rp 1,1 juta. Konon harga tiket saat ini sudah lebih murah dibanding dulu agar bisa bersaing dengan pesawat. TGV telah ikut meningkatkan mobilitas di negara-negara Eropa.
Kereta berjalan tepat waktu sekitar pukul 16.15 waktu Paris. Dengan harga yang relatif mahal itu kenyamanan memang sangat terasa dimulai dari bersihnya kondisi stasiun di Paris.
Di dalam kereta juga sangat lega dengan barisan kursi 2 dan 1. Bentuk kursinya seperti di pesawat terbang. Antara pintu gerbong satu dengan gerbong lainnya terdapat lemari untuk menyimpan tas sehingga penumpang tidak perlu repot membawa barangnya hingga ke tempat duduk.
TGV Thalys memiliki kecepatan sekitar 250 kilometer per jam, ini memang bukan kereta paling cepat TGV karena ada yang kecepatannya mencapai 550 kilometer per jam.
TGV yang pertama kali dioperasikan untuk umum tahun 1974 untuk rute Paris-Lyon bukan kereta cepat pertama di dunia, karena sebelumnya pada tahun 1964 Jepang sudah lebih dulu membuat Shinkansen yang menghubungkan Tokyo-Osaka. TGV diproduksi oleh pabrik kereta api Alstom.
Selama perjalanan 1 jam 30 menit itu kereta api Thalys hanya berhenti di satu stasiun besar selama kurang lebih 10 menit. Sama sekali tidak terasa goncangan atau kecepatan yang menakutkan di dalam kereta.
Berada di TGV Thalys rasanya bukan seperti di dalam kereta karena penumpang bisa istirahat. Tidak ada fasilitas makanan di dalam kereta ini, namun penumpang bisa membeli makanan seperti di kafe tapi pembeli harus antre.
Perjalanan Paris-Brussels atau Luxemburg-Paris relatif datar-datar saja. Jarang sekali menemukan belokan tajam atau berjalan di atas sungai. Pemandangan sekitar banyak melewati pertanian anggur atau peternakan sapi.
Petugas kereta mengecek tiket penumpang satu kali. Tepat selama 1 jam 30 menit kereta tiba di stasiun Brussels Midi. Tidak ada cerita kereta terlambat kecuali ada kejadian khusus.
(ir/nrl)











































