Tidak Mudah Menata Indonesia, Diperlukan Pemimpin Kuat

Laporan dari Stockholm

Tidak Mudah Menata Indonesia, Diperlukan Pemimpin Kuat

- detikNews
Sabtu, 31 Mei 2008 11:17 WIB
Stockholm - Bukan perkara mudah untuk mengatasi masalah sangat kompleks yang dihadapi Indonesia saat ini. Perlu pemimpin kuat dan modal kesadaran rakyat untuk membangun negerinya.

Demikian antara lain butir-butir yang disepakati dalam Dialog Interaktif dengan tema "Retrospeksi dan Tantangan ke Depan", yang digelar KBRI Stockholm (25/5/2008) dalam rangka memperingati 100 tahun Harkitnas, bertepatan dengan Peringatan 80 Tahun Sumpah Pemuda dan 10 Tahun Reformasi.

Digarisbawahi bahwa Indonesia bisa menuju ke situasi yang lebih baik. Untuk itu perlu dilakukan aksi kongkrit dari setiap warganegaranya, baik di dalam maupun di luar negeri sebagai kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Selain itu dialog juga menyepakati bahwa adanya keterbukaan saat ini memang memungkinkan publik dapat memonitor secara langsung pelaksanaan kebijakan pemerintah maupun penggunaan dana APBN, misalnya yang diperuntukkan pendidikan.

Diperlukan suatu kebijakan yang dapat lebih banyak memikat para lulusan sekolah di luarnegeri untuk kembali ke tanah air dan membangun Indonesia yang lebih maju. Salah satunya adalah penetapan UU Dwi Kewarganegaraan yang tidak dibatasi oleh faktor usia.

Disepakati pula bahwa di era globalisasi saat ini kebijakan luarnegeri Indonesia perlu terus dilandasi kekuatan diplomasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan bidang hubungan luarnegeri.

Indonesia hendaknya tidak hanya dilihat sebagai sebuah negara dengan berbagai persoalan tetapi juga sebuah negara yang mempunyai banyak peluang untuk dikembangkan.

Masyarakat Indonesia di Swedia akan terus saling bekerjasama dan mengembangkan jaringan kerja dengan mitra mereka di Indonesia dalam upaya untuk terus memberikan sumbangan berarti kepada bangsa Indonesia. Termasuk dalam hal ini mendorong para intelektual lulusan Swedia, agar kembali ke tanah air dan bersama-sama membangun Indonesia untuk lebih maju.

Dialog menampilkan 3 pembicara Tom Ilyas (Stockholm), Abram Perdana (S3 Chalmers University Goteborg) dan dr. Trisasi Lestari (S2 Umea University, sebelumnya ditulis dr. Trisasi menempuh S3).

Sedangkan para pembahas terdiri dari Janto Marzuki (tokoh masyarakat Indonesia di Swedia), Edwin Setiawan Tjandra (KTH/Royal Institute of Technology), Patricia Rinwigati Waagstein (staf pengajar Uppsala University) dan Hariyadi Wirawan (staf pengajar FISIP-HI, UI).
(es/es)


Berita Terkait