Para korban itu menggelar tahlilan dengan didampingi Walhi, Gerakan Menutup Lumpur Lapindo (GMLL), dan Kontras Jakarta, Jumat (30/5/2008).
Di tengah lingkaran, diletakkan spanduk berisi tuntutan para korban. Spanduk itu bertuliskan 'Memaksa Lapindo Brantas memberikan ganti rugi kepada korban, menonaktifkan Aburizal Bakrie dari kabinet, menyita aset-aset pemegang saham Lapindo Brantas, dan hentikan semburan dari Lapindo Brantas'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai melafalkan doa, para korban mengacungkan poster yang antara lain bertuliskan, 'Habis lingkungan rakyat tenggelam, Lapindo dapat tanah,' dan 'Negeri ini bukan republik Bakrie'. Sekitar 10 polisi menjaga aksi tersebut.
Salah seorang korban, Zulkifli, mengatakan, nurani pemimpin negara telah mati. Karena itulah tahlilan digelar.
"Tahlilan itu merupakan suatu tradisi, karena sudah dua tahun kejadian lumpur Lapindo. Kami anggap pemimpin sudah mati," kata Zulkifli lirih.
Dia mengatakan, dirinya seperti orang bingung sehingga tidak tahu harus berucap apa terkait masalah yang menimpanya itu. "Saya sudah tidak punya harapan. Kami hanya berdoa kepada Allah," ucapnya sendu.
Usai tahlilan, para korban membubarkan diri. Dengan tertib, mereka mengambil kendaraannya yang diparkir di Silang Barat Monas. (nvt/gah)










































