SBY dan JK beriklan melalui aktivitas sehari-harinya sebagai presiden dan wakil presiden. Sedangkan calon lainnya khusus menyewa konsultan media untuk membentuk citra dirinya begitu menawan di mata publik. Sebut saja Sutrisno Bachir (SB), Wiranto, Prabowo, dan lainnya.
Untuk mengupas hal itu, digelarlah diskusi bertajuk 'Efektivitas Pencitraan Pemimpin Melalui Iklan' di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (30/5/2008). Hadir sebagai pembicara Ketum DPP Hanura Wiranto dan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Effendy Ghazali, menjelang pemilu, wajar saja para tokoh memanfaatkan media untuk mencitrakan dirinya. Agar iklan tersebut efektif, pengiklan harus menyadari tahapan-tahapan iklan agar pencitraannya diterima dengan baik oleh masyarakat. Hal ini penting agar iklan yang ditampilkan mencerdaskan publik.
"Wajar saja mereka menggunakan media untuk iklan politik, tetapi harus benar tahapannya agar memenuhi target. Biasanya dalam proses iklan, tahapan awalnya introducing, kedua positioning, ketiga comparing atau attacking," jelas Effendy.
Saat memakai konsep attacking, sambungnya, harus menggunakan data-data sehingga masyarakat paham visi dan misi calon. Kalau tidak, mereka hanya seperti dewa-dewa yang tidak ada cacatnya. Hal ini tentu tidak baik untuk pendidikan politik masyarakat.
Staf pengajar UI tersebut mengatakan, iklan BBM Wiranto adalah jenis iklan yang menggunakan konsep attacking. Yang bersangkutan harus mencari data dulu sebelum membandingkan atau menyerang kebijakan lawannya. Kalau data Wiranto benar maka dia akan diuntungkan. Sebaliknya bila salah, lawannya yang meneguk keuntungan.
"Kalau iklan SB itu proses introducing, belum positioning bahkan attacking. Namun pada akhirnya pasti sampai ke arah sana, karena teorinya begitu," tandas penggagas Republik Mimpi ini. (nvt/nrl)











































