Padahal junta mengaku membutuhkan sekitar US$ 11 miliar untuk membangun kembali berbagai infrastruktur yang hancur akibat topan dahsyat Nargis beberapa waktu lalu.
Buntut sedikitnya bantuan tersebut, junta Myanmar menyatakan, para korban topan di daerah pusat bencana, delta Irrawaddy, bisa tetap hidup meski tanpa bantuan negara asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rakyat dari delta Irrawaddy bisa selamat berkat diri mereka sendiri, meski tanpa batangan coklat yang disumbangkan komunitas internasional," demikian ditulis surat kabar Myanmar tersebut seperti dilansir harian Sydney Morning Herald, Jumat (30/5/2008).
"Mereka bisa hidup dengan sayur-sayuran segar yang tumbuh liar di tanah dan dengan ikan kaya protein dari sungai-sungai," tulisnya.
Kata-kata "batangan coklat" tampaknya merupakan kata kiasan. Maksudnya untuk menyindir sedikitnya bantuan yang diberikan dunia internasional. Sebab tidak ada negara yang membagikan coklat untuk rakyat Myanmar.
Demikian disampaikan Paul Risley dari Program Pangan Dunia, badan PBB yang mengatur pembagian barang-barang bantuan untuk korban topan di Myanmar.
Koran Myanma Ahlin juga mengecam sebuah institusi keuangan yang menolak memberikan bantuan untuk para korban topan. Meski tidak menyebut nama, namun kecaman itu tampaknya ditujukan ke Bank Dunia.
Pekan lalu Managing Director Bank Dunia Juan Jose Daboub menegaskan, pihaknya tak akan memberikan bantuan finansial ataupun pinjaman apapun kepada Myanmar. Alasannya, negara itu tidak pernah membayar utang-utangnya kepada Bank Dunia selama satu dekade.
(ita/nrl)











































