Bagaimana bisa terjadi? Ada banyak faktor yang menyebabkannya. Namun yang paling dominan adalah kesulitan hidup yang dialami oleh rakyat. "Rakyat jadi banyak bermimpi dan membayangkan hal yang senang-senang," ujar Lambang Triono, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), saat dihubungi detikcom, Jumat (30/5/2008).
Lambang menilai, rakyat hanya bisa bermimpi karena sudah tidak mempunyai upaya lagi untuk menghadapi kesulitan. "Mereka terbuai. Walaupun janji itu tidak pasti, mereka akan mempercayainya," ungkap Lambang.
Faktor lain juga karena rakyat tidak berdaya melawan arus pasar terbuka dan globalisasi. Akibatnya mereka lebih mempercayai hal-hal yang mustahil. "Mereka terjebak pragmatisme. Ingin punya mobil, tapi tidak berbuat apa-apa. Ya nggak mungkin kan," ucap Lambang.
Apa yang ditawarkan Achmad Zaini dinilai melawan hukum ekonomi. Sebab dalam teori ekonomi harus ada kegiatan produksi untuk mencapai hasil. "Ini jelas tidak masuk akal. Kok ya ada uang sebanyak itu yang dibagikan begitu saja," kata Lambang.
Lambang menyatakan, pola-pola penipuan seperti ini sudah sering terjadi. Seharusnya masyarakat bisa belajar dari apa yang pernah terjadi. "Dulu ada harta karun di Istana Bogor, lalu dana revolusi dan masih banyak lagi," ujar Lambang.
Lalu mengapa masyarakat percaya? Lambang menilai, selain karena kesulitan ekonomi, juga karena di Indonesia sangat berkembang apa yang disebut pasar gelap. "Selain pasar (dalam arti luas) formal, ada pasar gelap. Ini problemnya," tutur Lambang.
Lambang menilai, hal-hal seperti ini dibiarkan bisa berpengaruh pada nilai sosial yang ada di masyarakat. Mereka tidak akan percaya hukum sosial, bahkan trust terhadap pemerintah sekalipun akan hilang.
"Kita punya sumber daya alam yang banyak. Itu saja yang kita kembangkan. Jangan pernah bermimpi," pungkas Lambang.
Ingin mendiskusikan masalah ini, silakan membahasnya di thread detikForum.
(mar/nrl)











































