Semua itu bisa menjadi kenyataan lewat alat simulator pilot yang dimiliki Garuda. Terletak di Garuda Indonesia Training Center (GITC), Jl Raya Duri Kosambi, Jakarta Barat, simulator itu sebenarnya adalah untuk pelatihan calon pilot.
"Biayanya US$ 500 per jam," kata Kepala Diklat Awak Kabin GITC Bambang Poerwadhi di sela-sela acara Field Trip Garuda-Penerbit Erlangga di GITC, Kamis (29/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada 5 mesin simulator pesawat yang dimiliki GITC, yaitu jenis Fokker 28, A300, Boeing 747/737-200, serta paling terbaru Boeing 737-300/400/500 dan MD-11. Detikcom berkesempatan untuk menjajal menaiki simulator Fokker 28.
Dalam ruangan seukuran kira-kira 3x2 terdapat 2 kursi tempat pilot dan co pilot biasa bertugas. Karena dibuat untuk pelatihan pilot, maka panel instrumen di tempat pilot juga lengkap dan semuanya berfungsi layaknya pesawat asli.
Di depan pilot yang seharusnya jendela diganti dengan layar layaknya televisi yang menyimulasikan situasi di luar pesawat. Simulasi tersebut sangat nyata, kabin simulator bisa bergerak naik-turun dan kiri-kanan sesuai kendali pilot. Bahkan alat tersebut bisa menyimulasikan saat pesawat sedang labil yaitu lampu indikator menyala, suara peringatan meraung, dan kabin bergetar.
Sayangnya simulator tercanggih Boeing 737-300/400/500 dan MD-11 tidak bisa digunakan. "Sedang ada maintenance," kata pilot senior Garuda Hari Tjahyono yang menjadi anggota tim pilot kepresidenan.
Kedua simulator tersebut lebih canggih karena tidak hanya menampilkan view di depan pilot, tetapi juga di seputar kabin layaknya teater 3 dimensi. Selain penerbangan malam, simulator juga bisa menampilkan flight di siang hari, segala macam cuaca, bahkan dengungan mesin pesawat lain yang kebetulan lewat di dekat pesawat simulasi juga bisa dirasakan getarannya dan suaranya.
Tidak hanya itu, simulasi bisa menampilkan gambar sesuasi dengan tempat aslinya. Misalnya, jika hendak mendarat di Bandara Soekarno-Hatta maka pilot akan melihat situasi seperti bandara sebenarnya. Begitu juga di bandara-bandara lain di belahan dunia lain.
Simulasi bandara licin atau berangin juga bisa dilakukan lewat mesin tersebut. Mesin juga bisa menyuguhkan aksi bila salah satu mesin pesawat mati atau bermasalah. Sangat nyata.
Tertarik? Bambang mengatakan sedianya alat simulasi tersebut bisa dinikmati khalayak umum yang bersedia mengganti biaya operasional US$ 500 per jam. Namun, lanjutnya, saat ini fokus penggunaan alat simulator tersebut adalah untuk mendidik para pilot. (gah/fay)











































