Indonesia belum menguasai kekayaan alam yang ada. Indonesia tidak kekurangan energi namun yang menjadi masalah adalah kebijakan sektoral di bidang energi yang memprihatinkan.
Demikian disampaikan Abram Perdana, mahasiswa Phd dari Chalmers University (Goteborg) dalam Dialog Interaktif dengan tema "Retrospeksi dan Tantangan ke Depan", yang digelar KBRI Stockholm (25/5/2008) dalam rangka memperingati 100 tahun Harkitnas, bertepatan dengan Peringatan 80 Tahun Sumpah Pemuda dan 10 Tahun Reformasi.
Berbicara tentang kebangkitan dan upaya menyejahterakan masyarakat antara lain dapat dicapai melalui tatalaksana energi.
Menurut Abram, potensi energi Indonesia belum dikelola secara tepat dengan berbagai kebijakan tidak pro investor, ketidakpastian hukum serta kurangnya transparansi pemerintah dalam memanfaatkan sumber energi nasional. Keadaan ini diperparah oleh dampak globalisasi yang menyebabkan dependensi yang semakin besar di antara negara-negara di dunia.
"Menjadi tugas kita bersama untuk mencari solusi paling cerdas, yang mengharuskan kita bersikap akomodatif dan kompromistis tanpa mengorbankan kepentingan bangsa yang lebih besar," cetus Abram, yang mewakili kelompok mahasiswa dan masyarakat Indonesia di pantai barat Swedia.
Dikatakan, bahwa energi terbarui yang dimiliki Indonesia sebenarnya banyak, seperti biotermal. "Namun kebijakan pemerintah Indonesia dalam hal ini masih belum ada. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan yang action oriented," tandas Abram.
(es/es)











































