"Ini adalah film layar lebar untuk festival yang juga bisa dijual," kata penggagas film tersebut, Shohibul Faroji, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (29/5/2008).
Awalnya, Shohibul tertarik dengan berita-berita di media massa soal keberadaan Laboratorium Namru-2 milik AS di Indonesia. Lalu dirinya mengirim SMS ke Menkes menanyakan hal tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam waktu yang cukup singkat, Shohibul membuat script dan proposal. Lalu pada 25 Mei 2008, Menkes menerima dia di kantornya.
"Kami tengah mencari investor. Dan pendananya semua akan dari dalam negeri. Ada juga dari luar negeri yang sudah menawarkan, tapi kami tolak. Kami tidak mau menggadaikan nasionalisme. Ini adalah film rakyat pinggiran," sambungnya. (nvt/nrl)










































