Sapi Gila Jadi Momok Warga Korsel

Sapi Gila Jadi Momok Warga Korsel

- detikNews
Kamis, 29 Mei 2008 09:59 WIB
Seoul - Aksi demo belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Namun aksi serupa juga terjadi hampir setiap hari di Korea Selatan (Korsel). Tapi penyebabnya beda. Di negeri Ginseng itu, warga gencar berunjuk rasa gara-gara sapi gila!

Daging sapi yang berasal dari Amerika Serikat (AS) telah lama menjadi momok bagi warga Korsel. Ini dikarenakan ditemukannya sejumlah kasus penyakit sapi gila pada daging sapi dari AS. Pada kasus yang gawat, penyakit sapi gila bisa menimbulkan kematian pada manusia.

Nah, belakangan ini pemerintah Korsel berniat melanjutkan kembali impor daging sapi AS. Padahal impor itu telah dihentikan sejak tahun 2003 setelah ditemukannya kasus pertama penyakit sapi gila di Washington, AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga Korsel menolak keras rencana pemerintahnya untuk melanjutkan kembali impor daging AS. Di Seoul, ibukota Korsel nyaris setiap hari terjadi demo menentang rencana impor tersebut. Buntut demo massal ini, pemerintah Korsel menunda melakukan kesepakatan dengan AS untuk melanjutkan kembali impor daging sapi AS.

Warga Korsel khawatir jika impor dilanjutkan, AS akan mengirimkan daging yang berisiko sapi gila. "Bagaimana jika anak saya makan daging berbahaya itu di restoran?" tanya Shin Hae-suk (54) seorang ibu rumah tangga seperti dikutip kantor berita Reuters, Kamis (29/5/2008).

Beredar rumor bahwa pemerintah Korsel akan mengorbankan keselamatan warganya demi mempererat hubungan dengan Washington.

Aksi demo di Korsel biasanya diramaikan oleh ribuan orang setiap harinya. Bahkan ada kalanya mencapai 10 ribu orang. Selain menentang rencana impor tersebut, para pendemo juga menuntut Presiden Lee Myung-bak mundur. Lee baru menjabat pada Februari lalu.

Kebanyakan pendemo adalah mahasiswa. Demo yang tadinya selalu berjalan damai, belakangan ini mulai diwarnai kericuhan. Belum lama ini, lebih dari 200 pengunjuk rasa ditangkap polisi. Bahkan beberapa dari mereka sempat dipukuli polisi saat bentrokan terjadi. (ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads