"Selain pengakuan saksi korban, kita juga punya bukti-bukti. Itu nanti yang akan kita ungkap ke BK," kata Sri Nurherwati dari LBH Apik yang mendampingi Desi di Komnas Perempuan, Jl Latuharhary, Jakarta Pusat, Rabu (28/5/2008).
Sri juga mengatakan, foto seorang gadis yang berpose dengan Max Moein seolah tanpa busana bukanlah Desi. Desi mengadukan pelecehan seksual yang dialaminya kepada LBH Apik pada 12 Juni 2007 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri menuturkan, Desi ditawari menjadi tenaga asisten Max melalui telepon. Yang menelepon adalah Max sendiri. Saat itu Max menjabat ketua pansus BLBI.
"Selama setahun kerja, D mengalami banyak pelecehan seksual. Dia diancam dipecat jika melapor pada siapa pun," sambungnya.
Karena merasa tidak tidak tahan, Desi lalu mengadu pada keluarganya. Keluarganya pun mengadu ke LBH Apik.
"Desi dipecat dengan alasan mencuri laptop dan printer, padahal laptop dan printer diberikan kepada Desi oleh MM untuk tujuan belajar," jelas Sri.
Ketika Desi mengembalikan laptop dan printer, Max tidak mau menerimanya. Setelah keluar dari pekerjaannya, Desi kerap diteror lewat SMS dan telepon.
"Kami pernah mengirim surat ke BK DPR pada 22 Agustus 2007 tetapi tidak ada tanggapan," cetus Sri.
Surat kedua lantas dikirimkan pada 29 November 2007, namun lagi-lagi belum ada tanggapan. "Kami meminta DPR untuk memproses kasus ini segera. Juga harus memperbaiki mekanisme rekrutmen tenaga asisten DPR agar lebih transparan dan profesional," pintanya.
Apakah sudah melapor ke kepolisian? "Belum. Kami akan fokus dulu ke BK DPR," sahut Sri.
Dalam keterangan pers tersebut, Desi juga hadir. Dia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru muda. Beberapa kali, dia tampak mengelap air matanya. (nvt/nrl)











































