Penilaian ini bukan basa-basi, tapi didasarkan sejumlah fakta. Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM Sudiartono yang terlibat diskusi dengan kelompok Joko Suprapto cs sempat diberi kartu nama oleh mereka dalam pertemuan di tahun 2005/2006 itu. Di kartu nama mereka tertulis PT Darma Brahmana, bergerak dalam bidang energi alternatif berteknologi Mata Hati.
Nah, suatu hari di hari Sabtu setelah pertemuan itu, Sudiartono bertolak ke Surakarta untuk mencari tahu alamat PT Darma Brahmana ini. "Kita cek alamat-alamat yang tertera di dalam kartu nama itu, dan ternyata semua palsu," kata Sudiartono saat ditemui detikcom di kantor PSE UGM, Sekip Yogyakarta, Rabu (28/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sudiartono juga mengecek alamat workshop kotak ajaib yang disebut mereka sebagai trafo untuk pembangkit tenaga listrik. Alamat yang mereka sebut adalah Jalan Serengan Surakarta. "Ternyata alamat workshop itu juga palsu," kata Sudiartono.
Karena tak menemukan alamat-alamat tersebut, Sudiartono pun akhirnya menelepon HP Purwanto. "Saat saya telepon, dia mengaku di Magelang. Saat itu saya katakan, Anda penipu, alamat workshop yang ditunjukkan adalah rumah Direktur PDAM Surakarta. Dan saya katakan putus komunikasi, karena Anda penipu," ujar Sudiartono berang.
Sudiartono menyayangkan adanya potret-potret saat pertemuan pertama di rumah dinas Rektor UGM. "Waktu itu dia mengambil foto-foto rektor dan yang lain. Yang kami khawatirkan, dengan foto-foto tersebut mungkin akan digunakan untuk mencari mangsa di tempat lain," kata dia.
Dalam pertemuan dengan pihak UGM, Joko Suprapto cs juga menunjukkan surat pemesanan pembangkit listrik dari pabrik kertas Leces di Probolinggo dengan harga jutaan hingga miliaran rupiah. Sudiartono meragukan klaim mereka dan sempat meminta staf PSE untuk mengecek kepada PT Leces mengenai surat pemesanan itu.
Sudiartono berharap masyarakat untuk berhati-hati menyikapi klaim penemuan energi alternatif ini. "Jangan sampai dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan dan popularitas di saat krisis energi seperti saat ini. Kita hanya bisa mengimbau agar selalu terbuka dalam melakukan riset tanpa ada yang ditutup-tutupi," pinta Sudiartono.
Kasus blue energy yang berujung pada berita menghilangnya Joko Suprapto selama 13 hari dinilai Sudiartono sebagai bentuk kepanikan masyarakat dan pimpinan pemerintahan berkaitan krisis energi. "Mari kita jalin kebersamaan dan keterbukaan baik keilmuan maupun yang lain untuk melakukan riset berbasis produk nyata yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis energi dan krisis segalanya," ajak Sudiartono.
(bgs/asy)










































